بسم الله الرحمن الرحيم

Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.”

(HR. Ahmad, Bukhari, Tarmidzi.)

Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

10 Macam SABAR, Sabar, SAbar, SABar, SABAr, sabar, sAbar, saBar, sabAr, sabaR …

SEPULUH  PEKERTI  TERPUJI
01. Sabar terhadap syahwat perut, disebut al-qana’ah lawannya adalah asy-syarah (rakus).
02. Sabar terhadap syahwat farji, disebut ‘iffah, lawannya adalah asy-syabq.
03. Sabar terhadap musibah disebut ash-shabru, lawannya adalah al-jaza’.
04. Sabar terhadap kekayaan disebut dhabt an-nafs (pengekangan diri), lawannya adalah al-bathr (penyalah-gunaan kenikmatan).
05. Sabar terhadap pertempuran disebut al-syuja’ (berani), lawannya adalah al-jubun (pengecut).
06. Sabar dikala marah disebut hilm (penyantun), lawannya adalah al-humq (pemarah).
07. Sabar dikala menghadapi musibah disebut sa’ah ash-shadr (lapang dada), lawannya adalah al-dhajar(pencemas).
08. Sabar dalam memelihara dsebut al-kitman, lawannya adalah al-khurq.
09. Sabar dari hidup berlebihan disebut az-zuhd, lawannya adalah al-hirsh (tamak).
10. Sabar dalam mengharapkan sesuatu disebut at-tu’adah (tidak terburu nafsu), lawannya adalah at-thaisy(gegabah).

Minggu, 20 November 2011

Tanda-tanda Ketika Iman Sedang Turun

Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah: 



1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan. Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486) Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86) 


2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554) - gue banget :|

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)

Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

Jumat, 04 November 2011

Hari-Hari Puasa Sunah

 1. Puasa arafah bagi yg tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa di hari arafah menghapus dosa dua tahun setahun yg silam dan setahun yg akan datang.

2. Puasa asyura dan tasu’a. Yaitu dihari ke sembilan dan sepuluh bulan Muharam . Dan puasa Asyura itu menghapus dosa setahun yg telah lalu. . Tentang puasa tasu’a pada setahun sebelum beliau meninggal beliau bersabda Pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan.

3. Puasa enam hari di bulan Syawal Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya di bulan enam hari di bulan Syawal maka seperti berpuasa sepanjang tahun.

4. Puasa di bulan Sya’ban. Aisyah berkata ‘Aku tidak pernah melihat beliau lbh banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban. (HR Muslim)

5.sepuluh pertama bulan Dzulhijjah berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim yg menerangkan bahwa tidak ada hari-hari yg amal shaleh lbh dicintai di dalamnya dari pada hari-hari sepuluh Dzul hijjah. 

6. Puasa hari-hari putih yaitu pada tanggal 13.14. 15 pada tiap bulan hijriah. Puasa hari tersebut seperti puasa sepanjang tahun {sesuai dgn HR Nasa’i}. 

7. Puasa hari Senin dan Kamis Sesungguhnya amal perbuatan diperlihatkan tiap hari Senin dan Kamis kemudian Allah mengampuni tiap orang muslim atau orang mukmin kecuali dua orang yg saling mendiamkan. Allah berfirman ‘ Tundalah pengampunan mereka berdua’.

8. Puasa Dawud sehari puasa sehari tidak. Puasa sunah yg paling baik dan paling dicintai Allah. 

9. Puasa bujangan yg belum mampu nikah. Wahai para pemuda Barang siapa mampu utk menikah maka hendaklah segera menikah. Karena hal itu lbh menjaga pandangan dan lbh menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu hendaklah ia berpuasa. Karena puasa adl wija’ (mengendurkan gejolak syahwat baginya).


sumber : http://blog.re.or.id/hari-hari-puasa-sunah.htm

Minggu, 29 Mei 2011

Enam Pertanyaan Imam Al Ghozali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya….pertama, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”…Ada yang menjawab “kapas, angin, debu dan daun-daunan”. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “MENINGGALKAN SHOLAT”. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua…. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya menjawab “negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang”. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “MASA LALU”. Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga…. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawah “gunung, bumi dan matahari”. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab “besi dan gajah”. Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “MEMEGANG AMANAH” (Al Ahzab 72).Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”…Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “pedang”. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA” Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Dan pertanyaan keenam adalah, ”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab “orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya”. Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sudah menjadi kepastian janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)

sumber : facebook.com (pencari ridho Allah - page)

Sabtu, 28 Mei 2011

Meraih Cinta Allah Subhanahu Wa Taala Dengan Al Quran, Abdul Aziz Musthafa

Sesungguhnya di antara sebab yg bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca al Qur`an dg khusyu' & berusaha memahaminya. Sehingga tdk mengherankan, apabila kedekatan dg al Qur`an merupakan perwujudan ibadah yg bisa mendatangkan cinta Allah. 

Para salafush-shalih, ketika membaca al Qur`an, mereka sangat menghayati makna ini. Sehingga ketika membaca al Qur`an, seolah-olah seperti seorang perantau yg sedang membaca sebuah surat dari kekasihnya. 

Al Hasan al Basri berkata,"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap al Qur`an adalah surat-surat dari Rabb mereka. Pada malam hari, mereka selalu merenunginya, & akan berusaha mencarinya pd siang hari. "

Seandainya kita berpikir, sungguh ini merupakan keistimewaan yg luar biasa. Allah Yang Maha Besar, Maha Tinggi, Raja Diraja, mengkhususkan khitab (pembicaraan) & kalamNya utk manusia yg penuh dg kelemahan ini. Allah memberikan kepada mereka kemuliaan utk berbicara, berkomunikasi denganNya. 

Al Imam Ibnul Jauzi berkata,"Seseorang yg membaca al Qur`an, hendaknya melihat bagaimana Allah berlemah-lembut kepada makhlukNya dalam menyampaikan makna perkataanNya ke pemahaman mereka. Dan hendakya ia menyadari, apa yg ia baca bukan perkataan manusia. Hendaknya ia menyadari keagungan Dzat yg mengucapkannya, & hendaknya ia merenungi perkataanNya. "

Ibnu Shalah berkata,"Membaca al Qur`an merupakan sebuah kemuliaan yg Allah berikan kepada hambaNya. Dan terdapat dalam riwayat, bahwa para malaikat tdk mendapat kemuliaan ini, tetapi mereka sangat antusias utk mendengarkannya dari manusia. "

Kemuliaan ini akan lebih sempurna apabila disertai keikhlasan. Karena ikhlas -sebagaimana yg dikatakan oleh Imam Nawawi- merupakan kewajiban utama bagi pembaca al Qur`an. Dan seharusnya ia menyadari, bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Allah. 

Perhatikanlah, wahai saudaraku!
Allah telah memberikan izin kepadamu utk bermunajat kepadaNya. Dengan demikian, berarti Allah telah memberikan rahasia cintaNya kepadamu. Dan al Qur`an, merupakan bukti kecintaanNya. Karena al Qur`an memberikan petunjuk tentang Allah & yg dicintaiNya. Maka, tentu cinta kepadaNya merupakan jalan hati & akal utk mengetahui sifat-sifat Allah & hal-hal yg dicintaiNya. Melalui al Qur`an, kita bisa mengetahui nama-namaNya, apa yg layak & yg tdk layak bagiNya, serta (mengetahui) secara rinci syari'at yg diperintahkan & yg dilarang Allah, & mengantarkan seseorang menuju cinta & ridhaNya. 

Oleh karena itu, ada di antara para sahabat berusaha utk mendapatkan kecintaan Allah dg membaca satu surat. Dia renungi & dia cintai; yaitu surat al Ikhlash, yg mengandung sifat-sifat Allah. Dia selalu membacanya dalam shalat yg ia lakukan. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab: "Karena ia merupakan sifat Allah, & aku sangat suka menjadikannya sebagai bacaan". Mendengar jawaban itu, Nabi bersabda:
أَخْبِرُوهُ أَنَّ الله يُحِبُّهُ
"Beritahukan kepadanya, bahwa Allah mencintainya".
Orang yg mencintai al Qur`an, mestinya cinta kepada Allah Azza wa Jalla, karena sifat-sifat Allah terdapat di dalam al Qur`an. Dan semestinya, ia juga cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliaulah yg menyampaikan al Qur`an. 

'Abdullah bin Mas'ud berkata,"Barangsiapa yg mencintai al Qur`an, maka ia akan cinta kepada Allah & RasulNya. "

Bukti terbesar cinta kepada al Qur`an, yaitu seseorang berusaha utk mehamami, merenungi & memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta kepada al Qur`an / tdk cinta sama sekali, yaitu berpaling tdk merenungi maknanya. Allah Azza wa Jalla mencela orang munafik, karena tdk merenungi al Qur`an dg firmanNya:
"Maka apakah mereka tdk memperhatikan al Qur`an? Sekiranya al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka sudah mendapatkan pertentangan yg banyak di dalamnya". (an Nisaa`/4: 82) . 

Mentadabburi al Qur`an dapat mengobati berbagai macam penyakit hati, membersihkannya dari kotoran, serta dapat memberikan jawaban & bantahan terhadap syubhat yg dibawakan setan, manusia, & jin. Berbeda dg orang munafik, karena enggan merenungi al Qur`an & tdk mencari petunjuk darinya, maka hati mereka sakit, penuh penyakit syubhat & syahwat, sebagaimana firman Allah:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; & bagi mereka siksa yg pedih disebabkan mereka berdusta". (al Baqarah/2: 10).
Jadi, ketika Allah Azza wa Jalla mengajak manusia utk mentadabburi al Qur`an, pd hakikatnya Allah Azza wa Jalla mengajak utk mengobati hati mereka dari berbagai macam penyakit yg membahayakan. 

Tadabbur al Qur`an, juga merupakan cara utk mengetahui kewajiban-kewajiban agama yg telah dibebankan Allah kepada para hamba. Imam al Qurthubi berkata,"Ayat ini -an Nisaa`/4 ayat 82- & juga firmanNya
"(Maka apakah mereka tdk memperhatikan al Qur`an ataukah hati mereka terkunci-QS Muhammad/47 ayat 24)" menunjukkan wajibnya mentadaburi al Qur`an supaya dapat mengetahui maknanya. 

Juga, kemuliaan lain yg dimiliki oleh orang yg mentadaburi al Qur`an yaitu, kebaikan yg dijanjikan oleh Rasululah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yg diriwayatkan dari jalan sahabat 'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah orang yg mempelajari al Qur`an & mengajarkanya".
Seseorang yg membaca al Qur`an, hendaknya berusaha utk memahami setiap ayat yg ia baca. Karena dg merenungi & memahaminya, serta mengulanginya, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya al Qur`an. 

Bisyr bin as Sura berkata,"Sesungguhnya ayat al Qur`an ibarat buah kurma. Setiap kali engkau kunyah, maka engkau akan merasakan manisnya," kemudian perkataan ini diceritakan kepada Abu Sulaiman, & dia berkata,"Benar! Maksudnya, apabila salah seorang mulai membaca satu ayat, maka ia ingin segera utk membaca yg berikutnya. "
Al Qur`an akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Orang yg menjaganya, berarti ia telah membawa panji agama Islam, sebagaimana dikatakan oleh al Fudhail bin Iyad: "Hamilul Qur`an adalah pembawa panji Islam. Tidak layak baginya utk lalai bersama orang yg lalai, lupa bersama orang yg lupa, sebagai wujud mengagungkan Allah". 

Orang yg menjunjung tinggi al Qur`an, maka dialah yg berhak mendapatkan kemuliaan membawa panji Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yg di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kalian tdk memahaminya" (al Anbiyaa`/21: 10).
Dalam menafsirkan kata دكركم , 'Abdullah bin 'Abbas berkata,"Maksudnya, di dalamnya terdapat kemuliaan kalian. "
Allah juga berfirman:
"(Dan sesungguhnya al Qur`an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu & bagi kaummu & kelak kalian akan diminta pertanggungan jawab". -az Zukhruf/43 ayat 44- maksudnya adalah, (al Qur`an) merupakan kemuliaan bagimu & bagi mereka, apabila mereka menegakkan hak-haknya. 

Rasulullah juga memberitahukan tentang ketinggian derajat Ahlul Qur`an. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
"Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dg kitab (al Qur`an) ini & menghinakan yg lain".
Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi orang yg membaca al Qur`an utk tdk seperti orang kebanyakan. 'Abdullah bin Mas'ud berkata,"Hamilul Qur`an itu mestinya dikenal dg malamnya saat manusia lain sedang tidur. Dikenal siangnya dg berpuasa, saat manusia tdk puasa. Dikenal dg kesedihannya ketika manusia senang, dg tangisnya ketika manusia tertawa, dg diamnya ketika manusia berbicara, & dg khusyu'nya ketika manusia dalam keadaan sombong. " Demikian ini merupakan sifat mulia yg harus dimiliki oleh Hamilul Qur`an. 

Begitu pula orang yg mencintai al Qur`an, hendaknya tdk membanggakan diri, tertipu & sombong kepada orang lain dg kemuliaan yg Allah limpahkan kepadanya. Allah berfirman:
"Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karuniaNya kepada siapa yg dikehendakiNya; & Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui". (Ali Imran/3:73). 

Ibnul Jauzi berkata,"Seseorang hendaknya tdk membanggakan kemampuan & kekuatan dirinya. Hendaknya tdk memandang dirinya dg perasaan puas & menganggap dirinya bersih. Orang yg memandang dirinya penuh kekurangan, akan mengantarkannya semakin dekat denganNya. "

Merasa kurang, bukan berarti kemudian tdk menyadari nikmat Allah / tdk boleh menceritakan nikmat itu, karena sebagai wujud rasa syukur.
Hamilul Qur`an (penghapal) berada dalam kenikmatan yg tiada bandingannya, jika dia mengamalkannya. 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata,"Wahai Qurra` (para pembaca al Qur`an), angkatlah kepala-kepala kalian. Sungguh, jalan telah dijelaskan buat kalian, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan, & janganlah kalian menjadi beban bagi manusia. "

Az Zarkasyi berkata,"Ketahuilah, seseorang yg Allah ajarkan padanya al Qur`an, baik seluruhnya / sebagian, hendaknya menyadari kedudukan nikmat ini. yaitu, al Qur`an merupakan mukjizat terbesar, karena ia senantiasa eksis dg keberadaan dakwah Islam. Dan juga, karena Rasulullah merupakan penutup para nabi & rasul. Jadi, hujjah al Qur`an akan senantiasa ada di setiap zaman & waktu, karena al Qur`an merupakan kalamullah & kitabNya yg paling mulia. Maka, orang yg dianugerahi al Qur`an hendaknya memandang, bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberikan nikmat yg agung kepadanya. Hendaknya dia menyadari dg perbuatannya, bahwa al Qur`an akan membelanya, & bukan justru menuntutnya. 

Sebagaimana juga, ia harus memanfaatkan dg sebaik-baiknya kenikmatan yg telah diberikan Allah kepadanya, mengumpulkan dalam dirinya yg dapat menyebabkan hati menjadi hidup. Mungkin ada yg bertanya, bagaimanakah cara memaksimalkan dalam mengambil pelajaran dari al Qur`an?
Ibnul Qayyim menjelaskan dalam kitabnya, al Fawaid, beliau rahimahullah menyatakan:
“Apabila engkau hendak mengambil pelajaran dari al Qur`an, maka konsentrasikanlah hatimu ketika membaca & mendengarnya, pasanglah telingamu. Jadikanlah dirimu seperti orang yg diajak bicara langsung oleh Dzat yg mengucapkannya, yaitu Allah Subhanahu w Ta'ala, karena al Qur`an merupakan khitab (pembicaraan) yg ditujukan Allah kepadamu melalui lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"(Sesungguhnya pd yg demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yg mempunyai hati / yg menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. -Qaaf/50 ayat 37-)". Karena pengaruh al Qur`an sepenuhnya tergantung dari yg memberi pengaruh, tempat yg bisa menerima pengaruh, terpenuhi syarat-syaratnya, & tdk ada yg menghalangi. Maka ayat di atas menjelaskan tentang semua itu dg ungkapan yg ringkas namun jelas, & mewakili maksudnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
أن فى ذللك لذ كرى
"(Sesungguhnya pd yg demikian itu benar-benar terdapat peringatan)", (ini merupakan) isyarat kepada ayat-ayat yg telah lewat dari awal surat sampai ayat ini. Inilah muatstsir (yang memberikan pengaruh). 

Dan firmanNya:
لمن كان له قلب
"(bagi orang-orang yg mempunyai hati)" adalah, tempat yg bisa menerima pengaruh tersebut. Yaitu hati yg hidup yg mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala , sebagaiamana Allah Azza wa Jalla berfirman:
(Al Qur`an itu tdk lain hanyalah pelajaran & kitab yg memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yg hidup (hatinya) –Yasin/36 ayat 69, 70-), yaitu yg hatinya hidup.
Sedangkan firman Allah:
أو ألقى السمع
"(atau yg menggunakan pendengarannya)", maknanya, orang yg mengarahkan pendengaran & memusatkan indera pendengarannya kepada ucapan yg diarahkan kepadanya. Ini merupakan syarat bisa terpengaruh dg ucapan.
Adapun firmanNya:
وهو شهد
"(dan dia menyaksikannya)", maknanya, hatinya hadir, tdk lalai. Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata,"yaitu, dia mendengarkan al Qur`an dg penuh perhatian, tdk dg hati yg lalai lagi lupa. Ini menunjukkan adanya penghalang dari mendapatkan pengaruh, yaitu kelalaian hati tdk merenungi, tdk memikirkan, serta tdk melihat apa yg dikatakan kepadanya. 

Apabila ada yg memberikan pengaruh -yaitu al Qur`an- (maka) ada tempat yg bisa menerima pengaruh –yaitu hati yg hidup- & syaratnya ada -yaitu mendengarkan- serta tdk ada penghalang -yaitu sibuknya hati dg yg lainya- maka pengaruh itu, pasti akan timbul. Itulah perwujudan dalam memanfaatkan al Qur`an & mengambil pelajaran darinya". 

Setelah itu, hendaknya ia bersiap-siap utk mengamalkanya. Karena ilmu mengajak pemiliknya agar mengamalkannya. Jika diamalkan, ilmu akan terjaga. Jika tidak, maka ilmu itu akan hilang. 

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad berkata,"Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya al Qur`an turun supaya diamalkan. Maka jadikanlah membaca al Qur`an sebagai wujud pengamalannya. Oleh karena itu, Ahlul Qur`an adalah orang yg memahami al Qur`an & mengamalkan yg terkandung di dalamnya, walaupun ia tdk menghafalkannya. Sedangkan orang yg menghafalnya namun tdk memahaminya, serta tdk mengamalkan kandungannya, maka dia bukan Ahlul Qur`an, meskipun dia mendudukkan huruf-hurufnya sebagaimana mendudukan busur panahnya (artinya, sangat perhatian terhadap huruf-hurufnya, Red). 

Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendapatkan kecintaan dari Allah, maka hendaklah ia memiliki perhatian yg besar kepada al Qur`an, berusaha membacanya, merenugi & mengamalkanya. Jika kita sudah bertekad utk mengambil pelajaran darinya, maka hendaklah kita mengamalkan adab-adab berikut. 

ADAB-ADAB MEMBACA AL QUR`AN
Imam an Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, at Tibyan, (tentang) beberapa adab-adab & hukum saat membaca al Qur`an. Di antaranya adalah:
1. Ikhlas, hanya mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla & menyadari bahwasannya ia sedang berkomunikasi dg Allah.
2. Membersihkan mulutnya dg siwak / sejenisnya.
3. Bagi orang yg junub & haid, diharamkan membaca al Qur`an, baik semuanya / sebagiannya, kecuali apabila bacaan tersebut merupakan salah satu dzikir pagi & petang, / dzikir secara mutlak yg disunnahkan bagi seseorang utk membacanya.
4. Seseorang yg membaca al Qur`an, hendaklah membacanya di tempat yg bersih & lebih utama melakukannya di masjid. Karena di masjid, kebersihan & kemuliaan tempat menyatu.
5. Ketika membaca al Qur`an, hendaknya menghadap kiblat, kemudian duduk dg tenang. Dan boleh membaca al Qur`an dg duduk / dg merebahkan badan. Tetapi, cara yg pertama lebih utama.
6. Apabila memulai membaca al Qur`an, disunnahkan membaca ta'awudz disertai dg membaca Basmalah di setiap awal surat, kecuali surat Bara'ah (At Taubah). Demikian ini yg dikatakan jumhur ulama.
7. Konsentrasi saat membacanya.
8. Menghadirkan perasaan takut kepada Allah k saat membacanya.
9. Membacanya dg tartil. Dan para ulama telah sepakat tentang sunnahnya tartil, berdasarkan firman Allah:
"Dan bacalah al Qur`an itu dg tartil (perlahan-lahan)". (al Muzammil/73:4)
Dan karena membaca dg tartil lebih menghargai & lebih memberikan pengaruh dibandingkan membacanya dg cepat.
10. Disunnahkan meminta karunia dari Allah saat selesai membaca ayat-ayat tentang rahmat Allah Azza wa Jalla, memohon perlindungan dari siksa apabila selesai membaca ayat-ayat tentang adzab, & bertasbih kepada Allah apabila melewati ayat-ayat tentang pensucian Allah Azza wa Jalla .
11. Menjauhi hal-hal yg bisa mengurangi sikap hormat terhadap al Qur`an, seperti tertawa pd saat membacanya, melakukan perbuatan sia-sia, menjadikannya sebagai bahan perdebatan, / perbuatan lainya yg bisa mengurangi keagungan al Qur`an. Berdasarkan firman Allah:
"Dan apabila dibacakan al Qur`an, maka hendaklah kalian dengarkan baik-baik, & perhatikanlah dg tenang, semoga kalian mendapat rahmat". (al A'raf/7:204).
12. Tidak boleh membaca al Qur`an dg selain bahasa Arab, sekalipun bahasa Arabnya fasih, ataupun sama sekali tdk bisa, baik dalam shalat ataupun di luar shalat.
13. Tidak boleh membaca al Qur`an, kecuali dg qira’at as sab'ah (bacaan tujuh) yg mutawatir. Dan hendaknya tdk mencampur-adukkan bacaan yg tujuh tersebut selama dalam satu pembahasan.
14. Hendaknya membaca sesuai dg urutan yg ada dalam mushaf, baik saat shalat ataupun yg lainnya.
15. Membaca al Qur`an dg cara melihat mushaf lebih utama, dibanding membacanya dg cara menghafal, tentunya di luar shalat. Karena melihat kepada mushaf, merupakan ibadah yg diperintahkan, kecuali apabila orang yg membaca al Qur`an dg hafalannya merasa lebih khusyu’.
16. Disunnahkan membuat halaqah dalam membaca & mempelajari al Qur`an, berdasarkan sabda Rasulullah:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah suatu kaum berkumpul pd salah satu rumah-rumah Allah, membaca al Qur`an & mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Mereka akan diselimuti rahmat, & Allah akan menyebut (menceritakan) mereka kepada para malaikat yg ada di sisiNya". (21)
17. Disunnahkan membaca dg mengeraskan suara, selama tdk khawatir riya' & tdk mengganggu orang lain. Karena mengeraskan suara bisa mengggugah hati, memusatkan hati, serta memusatkan pendengaran ke konsentrasi utk merenungi bacaan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ. .
"Tidaklah Allah mengizinkan sesuatu kepada seorang nabi seperti izinnya utk memperbagus suara & mengeraskannya ketika membaca al Qur`an".
18. Ketika membaca al Qur`an, disunnahkan utk memperbagus suara, sebagaimana sabda Rasulullah:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
"Hiasilah al Qur`an dg suaramu". (22)
19. Disunnahkan minta dibacakan al Qur`an dari orang yg bersuara bagus, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada 'Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:
اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي قَالَ فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا قَالَ لِي كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ
"Bacakanlah Aku (al Qur`an)!" Dia mengatakan: Aku berkata,"Apakah aku membacakanmu al Qur`an, padahal ia diturunkan kepadamu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari orang lain. " Dia mengatakan: Aku berkata,"Lalu aku membaca surat an Nisaa`, saat sampai pd ayat
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
"Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Cukuplah!" Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang". (23)
20. Dimakruhkan membaca al Qur`an pd kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika ruku`, sujud, & yg lainya ketika sedang shalat, kecuali saat berdiri. Dan bagi makmum, dimakruhkan membaca al Qur`an lebih dari surat al Fatihah apabila dia mendengar bacaan imam. Juga makruh membaca al Qur`an dalam keadaan mengantuk & ketika sedang mendengarkan khutbah.
21. Dilarang mengkhususkan membaca surat-surat tertentu pd saat-saat tertentu, kecuali jika ada dalil yg menjelaskannya, seperti mengkhususkan membaca surat-surat yg ada ayat sajdahnya pd waktu Subuh hari Jum'at selain surat Sajdah, / membaca surat al An'am pd raka'at terakhir shalat tarawih pd malam ketujuh dg diiringi keyakinan bahwa itu sunnah.
22. Apabila ada seseorang yg memberikan salam kepada orang yg sedang membaca al Qur`an, hendaklah ia hentikan bacaannya & menjawab salam tersebut. Apabila ia mendengar orang yg bersin mengucapkan alhamdulillah, maka hendaknya ia menjawabnya dg mengatakan yarhamukallah. Demikian pula apabila ia mendengar adzan, maka hendaknya ia hentikan & menjawab adzan yg dikumandangkan.
23. Disyari'atkan utk bersujud apabila melewati ayat-ayat sajdah

BAHAYA BERPALING DARI AL QUR'AN
Apabila membaca al Qur`an termasuk salah satu faktor yg akan mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba, maka sebaliknya, berpaling dari al Qur`an merupakan salah satu faktor yg akan mendatangkan murka Allah. Nabi n mengadukan kepada Allah k , orang yg meninggalkan & berpaling dari al Qur`an, sebagaimana difirmankan Allah:
"Rasul berkata: "Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yg tdk diacuhkan". (al Furqan/25: 30). 

Ibnu katsir rahimahullah berkata,"Apabila mereka dibacakan al Qur`an, mereka banyak berbuat gaduh & sibuk dg perkataan yg lain, sehingga mereka tdk mendengarkan bacaan al Qur`an. Ini merupakan perbuatan berpaling dari al Qur`an. Tidak mengimani & tdk membenarkannya, juga termasuk hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an). Tidak merenungi & berusaha memahaminya, termasuk hajrul Qur`an. Cenderung kepada yg lainya, seperti syair, nyanyian, perbuatan sia-sia, perkataan & jalan hidup yg tdk bersumber dari al Qur`an, juga termasuk berpaling dari al Qur`an. " (24)

Dari sini kita bisa memahami, berpaling dari al Qur`an itu bermacam-macam bentuknya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga dirinya agar tdk terjerumus dalam salah satu perbuatan tersebut. 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Hajrul Qur`an (berpaling dari al Qur`an) itu ada beberapa bentuk. Pertama: Berpaling tdk mau mendengarkannya, & tdk mengimaninya. Kedua: Tidak mengamalkannya, & tdk berhenti pd apa yg dihalalkan & apa yg diharamkannya, walaupun ia membaca & mengimaninya. Ketiga: Ttidak berhukum dengannya dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) serta cabang-cabangnya. Keempat: Tidak merenungi & tdk memahami, serta tdk mencari tahu maksud yg diinginkan oleh Dzat yg mengatakannya. Kelima: Tidak mengobati semua penyakit hatinya dg al Qur`an, tetapi justru mencari obat dari selainnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam firman Allah Azza wa Jalla:
"Rasul berkata: "Wahai, Rabb-ku. Sesungguhnya kaumku telah menjadikan al Qur`an ini sesuatu yg tdk diacuhkan". (al Furqan/25: 30).
Ini semua merupakan perbuatan hajr terhadap al Qur`an. Ditambah lagi dg meng-hajr bacaan. Artinya, dia tdk mau membaca al Qur`an.
Fenomena seperti ini merebak di tengah masyarakat, seperti meletakkan al Qur`an pd tempat-tempat tertentu utk bertabarruk (mendapatkan barakahnya saja), meletakkan di salah satu pojok rumah, di bagian belakang / di depan kendaraan sampai tertutup debu. Ini menunjukkan telah menghajr al Qur`an (tidak mempedulikan & tdk pernah membacanya), sekaligus hal ini merupakan perlakukan yg buruk terhadap al Qur`an.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,"Barangsiapa yg memiliki mushaf, maka hendaklah membacanya setiap hari walaupun beberapa ayat, supaya mushaf itu tdk seperti ditinggalkan. ”

Demikian ini merupakan tingkatan seseorang yg meninggalkan al Qur`an serta beberapa keadaan mereka. Adapun keadaan seseorang yg selalu menyertai al Qur`an, maka ikatan hubungan mereka dg al Qur`an juga bermacam-macam, sesuai tingkat keseriusan yg diberikan Allah k kepada mereka.
Para salafush-shalih, selalu menghidupkan hari-hari mereka dg al Qur`an, sepanjang waktu siang maupun malam. Mereka selalu mempersiapkan hati ketika membaca al Qur`an, sehingga hati mereka selalu terasa hidup & jauh dari kelalaian. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk Hamilul Qur`an yg memiliki ikatan kokoh dengannya, & selalu menjadikan al Qur`an sebagai pedoman & penawar penyakit hati. 

Diringkas dari Syarhul Asbabul 'Asrah al Mujibah limahabatillah kama 'addaha ibnul qayyim,Abdul Aziz Musthafa, halaman 13-33 cet. Ke VIII, 1422H
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (07-08)/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016)

Penulis: Abdul Aziz Musthafa & diterbitkan oleh almanhaj. or. id
sumber :  http://www.akhlakislam.com

Musibah

Musibah itu dibagi menjadi tiga :
1. Yang menimpa orang2 beriman, ini disebut ujian. Disini Allah ingin menguji, sampai dimana tingkat keimanan masing2 individu yg diuji. Dan sebagai penebus dosa yg pernah dilakukan. Kalau lulus, naik tingkat. Kalau tidak lulus ya ngulang.
2. Yang menimpa orang2 STMJ alias solat terus maksiat jalan. Jika musibah menimpa golongan ini, disebut teguran/peringatan. Artinya Allah masih sayang dan peduli. Diibaratkan seperti seorang ibu yang menjewer telinga anak tersayangnya karena telah berbuat nakal. Agar sang anak mengambil pelajaran mengapa ia sampai dijewer dan tidak akan mengulanginya lagi.
3. Yang menimpa orang2 kafir. Ini disebut adzab.

Sumber : ustadzah mei hwa, mualaf chinese surabaya. (dg sedikit penambahan)

*************************
Ciri orang kafir tingkat tinggi tuh paling mudah dikenali. Kalau seorang muslim berkata A, dia sudah sampai Z untuk membantah. Hopeless lah pokoknya. Saya baru nemu dua orang yg begini. Mudah2an tidak ketemu yang lain lagi. Capek. Seperti ngobrol sama dinding. Mantol. Bukan, persisnya seperti membating bola basket. Mantol lebih hebring alias heboh dan nyaring.

Kalau soal adzab... Yaahh alhamdulillah nya, Allah punya sifat penyabar. Coba kalau Allah tidak sabaran, apa jadinya kehidupan ini? Adzab besar2an kiamat mungkin dipercepat, dan tidak ada kata taubat??? Haduh brabe deh!! Dan yang lebih alhamdulillah nya lagi kesabaran Allah itu tidak terbatas. Bukan seperti manusia yg dikit2 bilang: "kesabaran itu ada batasnya!" Atau "kesabaran gue udah abis!" Dalam hati saya, "yaelah bang tinggal dicas ulang kali, rempong amat idup lo." Thats the point of istigfar. Karena bagi orang yang mengaku beriman, hanya dengan mengingat Allah lah, hati menjadi tentram. Hehe gaya euy :p

Lagian marah kan termasuk salah satu alat propaganda setan untuk mengkafirkan manusia. Ciee elah bahasa gue,, (el ou el smiling face) <-- megamindsyndrome hahah.

Tahukah kamu tiap malam telingamu dikencingi setan? (Mungkin inilah sejarahnya kotoran kuping?? Wkwk bcandaaa haha) Kalau subuh2 inget ini rasanya pengen sujud tilawah trus biar setan nangis wkwk revenge untuk kebaikan ora popo to? Hahah ada gitu? Teuing.

Tampaknya sudah keluar dari topik nih. Jadi lebih baik saya sudahi dulu. Wassalamu'alaikum. Semoga bermanfaaaattt!! :)

Rabu, 25 Mei 2011

Penyesalan yang Sangat Berarti

Oelh: Zaidan Ats-tsalis

Allah SWT berfirman yang artinya:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’du: 11)

*[767] bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat Ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.

*[768] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

PERUBAHAN.
Kehidupan sejak awalnya sudah mengindikasikan sebuah perubahan. Berkaca dari diri kita sendiri. Dari pertemuan sperma dan ovum, hidup (berubah) di alam kandungan, terlahir sebagai sosok manusia kecil mungil. Seiring waktu terjadi perubahan secara jasad, begitu juga dengan mental dan sikap perangai. Dari lingkungan dan ilmu yang didapat menjadikan sebuah karakter yang kita dapati sekarang ini. Perubahan besar telah terjadai pada diri kita, begitu juga lingkungan, semuanya pasti bergerak yang kita sebut perubahan.
Yang menjadi permasalahan apakah kita akan menjadi obyek saja atau menjadi subyek sekaligus obyek perubahan tersebut. Jika kita hanya menjadi obyek, itu artinya kita tidak tahu harus berubah seperti apa, mengalir kemana saja air mengalir, melayang kemana angin berhembus.

Jika kita menjadi subyek dan sekaligus obyek perubahan maka kita menjadi orang yang mengerti bagaimana seharusnya diri dan lingkungan kita, kita mempunyai keinginan dan gambaran yang kuat tentang kondisi seperti apa yang terbaik, serta kita akan bergerak secara terus menerus ke dalam kondisi ideal tersebut. Proses pergerakan tersebut otomatis akan menjadikan diri kita menjadi subyek dan obyek, kita akan menjadi motor penggerak sekaligus teladan/sosok perubahan idealis tersebut.

Perubahan ada yang sifatnya universal dan ada yang khas. Yang ingin saya bahas adalah perubahan yang unik atau yang khas. Perubahan unik terjadi karena manusia menggunakan akalnya. Sedangkan perubahan universall karena memang sunnahtullah, pasti siapapun akan mengalaminya,seperti dari bayi menjadi balita lalu remaja,tua lalu mati. Rambut awalnya hitam memudar menjadi putih. Dan lain sebagianya.

Perubahan yang unik
Saya akan ceritakan tentang kisah sahabat Rasulullah yang bernama Abu Darda, sebelum masuk Islam adalah saudagar kaya yang keseharian berada di toko. Ada sebuah kebiasaanya ketika sebelum ke toko yaitu pagi stelah bangun tidur dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang diperolehnya dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya.

Abu Darda adalah sahabat Abdullah bin Ruwahah yang sudah masuk Islam terlebih dahulu. Suatu ketika, Abdullah bin Ruwahah berkunjung kerumahnya ketika Abu Darda masih di tokonya (pasar), Abdullah disambut istri Abu Darda yang sedang ”ngemong” anaknya. Ketika masuk rumah nya Abdullah langsung menuju kamar berhala Abu darda dan menghantamkan palu yang telah dipersiapkannya, sambil mengatakan, “Ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!”.

Ummu Darda yang mengetahui itu menangis karena takut kemarahan suaminya. Dan akhirnya ummu darda pun mengadukan kejadian tersebut sesampainya Abu Darda dirumah sehingga otomatis Abu Darda marah. Mulanya dia bermaksud hendak mencari Abdullah. Tetapi, setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.” Abu Darda’ pun mendapatkan hidayah dari proses dia berpikir sehingga ia pun mencari Abdullah untuk mengajaknya bertemu Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya.

Perubahan dari proses berpikir adalah perubahan yang unik, bisa merubah prilaku dan sikap seseorang hanya dalam waktu sekejab bahkan bisa menghancurkan keyakinan yang terpupuk selama bertahun-tahun.
Manusia Berubah karena Pemahamannya

Akal adalah anugerah Allah sebagai awal manusia mendapatkan dan menggunakan hidayah Allah. Dengan akal, manusia bisa berpikir, menyerap fakta yang terindra dan mengaitkannya dengan informasi yang didapat, hingga mendapatkan sebuah persepsi atau pemahaman tentang fakta tersebut. Informasi yang tidak meyakinkan (meragukan) akan mudah dirubah dengan informasi yang meyakinkan (berdalil), informasi yang sesuai dengan realita akan mudah dipahami atau diyakini daripada informasi yang tiada faktanya. Abu Darda hanyalah berasumsi dengan perasaanya bahwa patung yang dia sembah adalah perwujudan dari Tuhannya. Tetapi ketika didapatkannya sebuah fakta baru dan informasi yang meyakinkan dengan hancurnya ”sang tuhan” yang ternyata jauh dari informasi yang benar tentang Tuhan, menyadarkan dan merubah persepsinya tentang Tuhan. Dan untungnya lagi, Abu Darda mau menggunakan akal yang diberikan Allah sehingga dia bisa menggunakan hidayah lain yaitu al irsyad wal bayan (Al qur’an) sebagai pusat informasi yang benar.

Sejak itu pula, perubahan besar terjadi pada dirinya. Dia bisa merubah suka dan bencinya, bisa merubah cara pandangnya tentang dunia dan seisinya. Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu, kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam telah memperoleh pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini, hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu mereka tanamkan dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sunggu sekalipun dia berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang telah berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan dunia; mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan; mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya tanpa ragu-ragu dan tanpa menyesal.

Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah bertanya kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum masa Rasulullah, saya menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.” Kemudian, saya menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan, Allah Ta’ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah (berzikir).”

Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.

Saya tidak akan membahas tentang kezuhudan Abu Darda’,tetapi bagaiman dengan sebuah pemahaman bisa merubah seseorang sedemikain dahsyat.

Itulah yang kita butuhkan sekarang yaitu pemikiran Islam (menilai segala sesuatu dengan aqidah Islam) yang akan merubah perasaan qonaah dan ridho kita hanya untuk Islam. Maha benar firman Allah yang tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut merubah dirinya sendiri. 

Penyesalan yang sangat berarti ketika penyesalan tersebut membuat kita berubah ke arah yang benar yaitu berkepribadian Islam dan menjadi pembela Islam yang tangguh berdakwah di segala medan pertempuran di kehidupan sekarang ini. Sunnguh telah bangkrut dan celaka orang yang hari ini lebih buruk daripada kemarin.

sumber : http://forum35.wordpress.com