بسم الله الرحمن الرحيم

Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.”

(HR. Ahmad, Bukhari, Tarmidzi.)

Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Dakwah itu Wajib!

Oleh: Zaidan Ats-tsalis

 “Wahai paman, demi Allah, apabila mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwahku, aku tidak akan menghentikannya sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya”(Al Hadits)

Setangguh karang, seganas ombak. Itulah didikan guru besar manusia, teladan kita, Rasulullah Muhammad SAW.  Dengan keyakinan yang mantap rasulullah terus melakukan dakwah menawarkan islam kepada setiap manusia. Dakwah adalah jalan hidup yang telah digariskan Allah kepada setiap mukmin. Dakwah adalah tugas yang mulia, tugas yang dibebankan kepada para nabi dan Rasul. Namun, setelah Nabi terakhir Muhammad SAW wafat maka tugas dakwah ini dibebankan kepada ummatnya yang beriman dan bertaqwa.

Tidak mundur sedikit pun dari medan perjuangan dan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah yang akan menghancurkan.
“Demi dzatku yang jiwaku berada ditanganNya, engkau harus memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran atau Allah akan menurunkan hukuman kepadamu, kemudian engkau berdo’a kepadaNya tapi Allah tidak mengabulkan kepadamu”(HR. Tirmidzi)

Sungguh terbukti sabda baginda Rasulullah, ketika ummat ini meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, musibah dan mala petaka silih barganti menimpa ummat manusia seluruhnya termasuk orang-orang yang sholih. Doa-doa yang terpanjat belum terkabulkan karena syarat-syaratnya tidak terpenuhi yaitu berdakwah ditengah kerusakan.

Dakwah bukanlah hal yang remeh dan sepele. Banyak mukmin lari dari kewajiban ini karena merasa dirinya masih rusak sehingga dengan alasan memperbaiki diri, lari dari amar ma’ruf nahi munkar. Bukankah ketika kewajiban itu telah ditetapkan Allah maka kita sekuat tenaga untuk menunaikannya. Ketika sholat wajib maka kita harus bersegera mengerjakan. Otomatis kita harus belajar agar tidak salah dalam melakukan tata cara sholat. Ketika kita dapati meninggalnya seorang muslim maka kita juga harus menguburkannya dengan cara Islami, otomatis kita harus belajar untuk menunaikan penguburan dengan cara islami. Apa bedanya dengan dakwah?
Dakwah hukumnya wajib. Tiada bedanya dengan kewajiban yang lain. Janganlah kalah dengan hawa nafsu sehingga kita mengira bahwa kita belum layak untuk berdakwah.

Coba lihat Abu Dzar Al-Ghifari hanya sebentar ketemu Rasulullah, dan ilmunya juga belum seberapa tentang Islam kecuali hanya keimanan yang tertancap di dada. Tetapi, berhasil mengajak seluruh kaumnya untuk berislam.
Saudaraku, jangan beralasan dan cari-cari alasan dalam menunaikan kewajiban karena kita pasti akan ditanya Allah tentang kewajiban tersebut. Jangan alasan harta, keluarga, kesempatan, ilmu yang minim, pekerjaan, wanita (pria) kemudian menyurutkan kita dari medan dakwah. Sesungguhnya semua itu adalah ujian dalam perjalanan hidup kita.

Layaklah Hamzah disebut pemimpinnya para syuhada’, sepak terjangnya dalam membela Islam mengantarkannya ke medan perang hingga tubuhnya terkoyak, hidung dan telinganya terpotong. Dia korbankan nyawanya di jalan dakwah. Layaklah Abdurrahman bin Auf menjadi ahli jannah, dengan harta, tenaga dan pikirannya ia perjuangkan Islam.

Sudah layakkah kita mengharap sebaik-baik balasan Allah?
Jika hanya karena kerja, harta, dan wanita (pria) kita meninggalkan dakwah.
Sekali lagi, sungguh tidak layak sebagai mukmin yang bertaqwa jika kita tidak turut dalam perjuangan dakwah, hanya berpikir diri sendiri (egois), tidak mau mengorbankan apa yang kita punya untuk perjuangan Islam. Setiap kewajiban pasti ada ujian dan dibutuhkan pengorbanan.

Diantara ayat-ayat yang menerangkan bahwa dakwah itu adalah wajib :
  1. QS. Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 21

[3:21] Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.

  2. QS. Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 104

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

  3. QS. Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 110

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

  4. QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 114

[4:114] Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

  5. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 63

[5:63] Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram ?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

  6. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 78

[5:78] Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

  7. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 79

[5:79] Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

  8. QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 70

[6:70] Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

  9. QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 157

[7:157] (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

10. QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 165

[7:165] Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

11. QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 199

[7:199] Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

12. QS. At-Taubah [9] : ayat 67

[9:67] Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

13. QS. At-Taubah [9] : ayat 71

[9:71] Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

14. QS. At-Taubah [9] : ayat 112

[9:112] Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

15. QS. Huud (Hud) [11] : ayat 116

[11:116] Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

16. QS. An-Nahl [16] : ayat 90

[16:90] Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

17. QS. Maryam [19] : ayat 55

[19:55] Dan ia menyuruh ahlinya (keluarga, kerabat, sahabat) untuk bershalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.

18. QS. An-Nuur (An-Nur) [24] : ayat 21

[24:21] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

19. QS. Luqmaan (Luqman) [31] : ayat 17

[31:17] Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

20. QS. Adz-Dzaariyaat (Az-Zariyat) [51] : ayat 55

[51:55] Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
21. QS. Al-A'laa (Al-A'la) [87] : ayat 9

[87:9] oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,

22. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 174

[2:174] Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

23. QS. Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 187

[3:187] Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.

24. QS. An-Nahl [16] : ayat 44

[16:44] keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,

25. QS. Al-Ahzaab (Al-Ahzab) [33] : ayat 4

[33:4] Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

26. QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 79

[4:79] Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

27. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 92

[5:92] Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

28. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 101

[5:101] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyaikan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyaikan di waktu Al Qur'an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

29. QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 48

[6:48] Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

30. QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 66

[6:66] Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: "Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu".

31. QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 107

[6:107] Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.

32. QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 109

[6:109] Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.

33. QS. Yuunus (Yunus) [10] : ayat 46

[10:46] Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan melihatnya) atau (jika) Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan.

34. QS. Ar-Ra'd [13] : ayat 43

[13:43] Berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul". Katakanlah : "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab".

35. QS. An-Nahl [16] : ayat 82

[16:82] Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

36. QS. Al-Israa' (Al-Isra') [17] : ayat 54

[17:54] Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.

37. QS. Al-Kahfi (Al-Kahf) [18] : ayat 57

[18:57] Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

38. QS. Al-Hajj [22] : ayat 49

[22:49] Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu".

39. QS. An-Nuur (An-Nur) [24] : ayat 54

[24:54] Katakanlah: "taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".

40. QS. An-Naml [27] : ayat 80

[27:80] Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakangi.
41. QS. An-Naml [27] : ayat 81

[27:81] Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.

42. QS. An-Naml [27] : ayat 92

[27:92] Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan".

43. QS. Al-'Ankabuut (Al-'Ankabut) [29] : ayat 18

[29:18] Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya."

44. QS. Al-Mu'min (Al-Mu'min) [40] : ayat 78

[40:78] Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

45. QS. Asy-Syuura (Asy-Syura) [42] : ayat 6

[42:6] Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.

46. QS. Asy-Syuura (Asy-Syura) [42] : ayat 48

[42:48] Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).

47. QS. Az-Zukhruf [43] : ayat 41

[43:41] Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat).

48. QS. Az-Zukhruf [43] : ayat 42

[43:42] Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.

49. QS. Qaaf (Qaf) [50] : ayat 45

[50:45] Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.

50. QS. Al-Mumtahanah [60] : ayat 12

[60:12] Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

51. QS. Al-Jin (Al-Jinn) [72] : ayat 23

[72:23] Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

52. QS. Al-Muzzammil [73] : ayat 4

[73:4] atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.

53. QS. Al-Ghasyiyah [88] : ayat 21

[88:21] Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

54. QS. Al-Ghasyiyah [88] : ayat 22

[88:22] Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,
Saudara, Islam takkan bangkit jika umat masih banyak ragu. Dan Umat akan tetap ragu tanpa DAKWAH.
Tahukah saudara jika Dakwah bukan cuma tanggungjawab ustadz, tapi WAJIB bagi setiap Muslim?

QS.42:48 Kewajibanmu tak lain hanya menyampaikan


QS.3:20 Kewajibanmu hanya menyampaikan


QS.16:82 Kewajiban yang dibebankan atasmu hanya menyampaikan

 
sumber :  http://forum35.wordpress.com ; http://al-quran.bahagia.us ; http://islamterbuktibenar.net

Keistimewaan menghidupkan malam-malam Ramadhan


Bulan suci ramadhan merupakan bulan penuh ampunan, rahmat dan pelepasan dari api neraka. Pada bulan ini qta berlomba-lomba meningkatkan keimanan melalui ibadah-ibadah kita. Kalau bulan2 biasa hanya solat wajib, maka pd bulan ini sholat sunnah menjadi begitu luar biasa pahalanya apabila dikerjakan. seperti sholat tarawih yg trnyata memiliki banyak pahala berbeda di tiap malamnya.
Berikut Pahala menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan :
Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulanRamadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada :


Malam ke-1: Terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.
Malam ke-2: Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)
Malam ke-3: Malaikat berseru dari bawah Arsy; mulailah beramal semoga allah swt mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu.
Malam ke-4: Mendapatkan pahala sama dengan pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqon (al Quran)
Malam ke-5: Allah memberi pahala kepadanya sepert ipahala orang yang shalat di Masjid Alharam (masjidil haram) diMakkah,masjid
Nabawi di Madinah dan masjid Al Aqsha di Palestina.
Malam ke-6: Allah akan memberi pahala seperti pahalaorang yang tawaf di-baitul mamur, dan batu-batu serta tanah liatmemohonkan
ampun untuknya. (subhanallah sungguh luar biasa, batu dantanah yang kita injak selama ini,ternyata bisa memintakan ampunankepada Allah untuk kita).
Malam ke-7: Seakan-akan dia berjumpa nabi Musa a.s kemudian menolongnya dari Kerajaan Firaun dan Hamman.
Malam ke-8: Allah memberikan kepadanya, apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim a.s
Malam ke-9: Dia menjadi seperti seorang hamba Allah yang beribadah kepadanya seperti ibadahnya seorang nabi.
Malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
Malam ke-11: Maka ia akan meninggal dunia dalam keadaan seperti bayi yang baru lahir (meninggal dengan tanpa membawa dosa /husnul khotimah)
Malam ke-12: Pada Hari Kiamat, Anda akan bangkit dengan muka cemerlang seperti bulan.
Malam ke-13: Pada Hari kiamat, Anda akan bebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.
Malam ke-14: Para malaikat memberi kesaksian shalat tarawih anda, dan Allah tidak menghisab anda lagi.
Malam ke-15: Anda akan menerima shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy dan Kursi.
Malam ke-16: Anda akan mendapat tulisan "Selamat" dari Allah, anda bebas dari surga, dan lepas dari neraka.
Malam ke-17: Allah akan memberi pahala kepada anda sesuai pahala para nabi.
Malam ke-18: Malaikat akan memohon kepada Allah agar anda selalu mendapat restu.
Malam ke-19: Allah akan mengangkat derajat anda ke Firdaus (surga yang tinggi)
Malam ke-20: Diberikan pahala kepada anda sesuai pahala para syuhada dan shalihin.
Malam ke-21: Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya untuk anda disurga.
Malam ke-22: Anda akan merasa aman dan bahagia pada hari kiamat, karena Anda terhindar dari rasa takut yang amat sangat.
Malam ke-23: Allah akan membuat sebuah kota untuk Anda di dalam surga.
Malam ke-24: Allah akan mengabulkan 24 permohonan Anda selagi Anda masih hidup di dunia.
Malam ke-25: Anda akan bebas dari siksa kubur.
Malam ke-26: Allah akan derajat amal kebaikan Anda sebagaimana derajat amal kebaikan Anda selama 40 tahun.
Malam ke-27: Anda akan secepat kilat bila melewati Siratalmustakim nanti.
Malam ke-28: Anda akan dinaikkan 1.000 kali oleh Allah di dalam surga kelak.
Malam ke-29: Allah akan memberi pahala kepada Anda seperti Anda menjalani ibadah haji 1.000 kali yang diterima Allah.
Malam ke-30: Allah menyuruh kepada Anda untuk memakansemua buah di surga, minum air kausar, mandi air salsabila (air surga),karena Allah Tuhan Anda, dan Anda hamba Allah yang setia.

Semoga info diatas memicu kita semua untuk semakin dekat dengan Allah SWT pada bulan suci Ramadhan ini amin...
ayo semangat menghidupkan malam2 ramdhannya :)

Sumber oleh : Hani Hizboel (http://sabarya.blogspot.com/)

saya baru tau tentang ini huhuhu.. tau begini tidak akan saya menyia-nyiakan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.. T_______________T semoga kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan berikutnya ya, insyaAllah, amin.

Selasa, 24 Mei 2011

Hakikat Agama Islam

Pengertian Agama Islam
Islam adalah nama agama Allah yang disampaikan oleh nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Nama Islam ini bukan pemberian dari Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam dan bukan pula pemberian para pengikut agama Islam, tetapi nama Islam itu adalah pemberian dari  Allah taala (QS 5:3; 3:85). Dan para pengikut agama Islam disebut muslimun (QS 22:78) bahkan Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  sendiri juga disebut Muslim (QS 6:163)
Agama bahasa arabnya “diin” atau “millah”. Kata diin makna aslinya ketaatan, hukum dll. Adapun millah makna aslinya adalah perintah. Millah terutama sekali bertalian dengan Nabi, yang kepadanya agama itu diwahyukan, sedang diin bertalian dengan orang yang menganut agama itu (Al-Mufrodat fi ghoribil Quran). Adapun Islam artinya masuk dalam “silm”; kata “salm” atau “silm” dua-duanya berarti damai (Al Mufradat fi ghooribil Quran). Dua perkataan ini digunakan oleh Alquran dalam arti damai (QS 2:208 dan QS 8:61). Jadi agama Islam itu adalah agama yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  untuk umat manusia agar mengenal dan taat kepada-Nya dalam satu jamaah yang dipimpin beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam atau khalifah pengganti beliau, supaya iman mereka terpelihara dan memperleh kedamaian serta ridha-Nya.
Agama yang diridhoi
Agama Islam adalah agama yang sempurna dan diridhoi Allah taala (QS 5:3). Agama ini membicarakan segala perkara (QS 97:4) baik dalam urusan duniawi maupun urusan ukhrowi (QS 2:201), misalnya nabi-nabi dan raja-raja (QS 5:20) dan orang yang beragama Islam diperintahkan berdoa agar dibimbing di jalan yang benar untuk mendapatkan kenikmatan dan dihindarkan dari murka Allah dan jalan yang sesat (QS 1:5-6). Oleh karena itu setelah Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  diutus ke dunia ini, Allah menolak pilihan orang yang memilih selain Agama Islam, dan ia tergolong orang-orang yang merugi (QS 3:85)
Agama Pembawa Rahmat
Agama Islam merupakan rahmat bagi semesta alam (QS 21:107) dan mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, bahkan mampu membuat orang yang mati berbicara (QS 13:31). Maksudnya adalah mati ruhaninya . sebab orang yang mati jasmaninya tidak akan bisa hidup kembali di dunia ini dengan jasadnya (QS 21:95; 23:99-100), sedangkan “berbicara” maksudnya adalah berbicara tentang kebenaran Islam  untuk disampaikan kepada orang-orang yang belum mengerti agar mengenal Allah taala dan mengikuti  jejak Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  (QS 33:39; 7:68) serta sebagai bukti mereka telah menerima dan meyakini kebenaran ajaran Islam dengan tujuan agar umat manusia selamat bersamanya dalam satu jamaah yang telah didirikan Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam (QS 2:213). Mereka yang beriman dan berhimpun dalam jamaah itu akan senantiasa mentaati kehendak Allah dan Rasul-Nya (QS 4:69), sehingga mereka menampakkan budipekerti yang luhur dan akhlak yang mulia serta kesempurnaan akhlak (Kanzul Umal, juz XI/31929). Jamaah kaum muslimin yang demikian inilah yang dipuji sebagai umat yang terbaik (QS 3:110) dan dinyatakan sebagai umat yang paling unggul (QS 2:143) sebab iman mereka tampak sempurna dalam wujud akhlak yang terbaik (Kanzul Umal, juz III/5236).
Agama Penghimpun Semua Kebenaran
Agama Islam itu merupakan agama yang menghimpun semua kebenaran agama-agama yang pernah diajarkan oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  (QS 98: 2-3) untuk diyakini kebenarannya dan diamalkan dalam kehidupan umat Islam. Misalnya, Nabi Isa as mengajarkan bahwa Allah itu Esa dan beliau as hanya menyuruh menyembah Allah saja.
Dalam kitab Injil tertulis:
“Tetapi Yesus berkata kepadanya : Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Lukas, 4:8)
Dalam Alquran tertulis:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata ‘Allah itu ialah Almasih, ibnu Maryam’, padahal Almasih berkata, ‘Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya, barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah , maka ketahuilah bahwa Allah mengharamkan baginya surga dan tempat tinggalnya ialah api, dan tak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang aniaya.” (Al-Maidah, 5:72)
Dalam kitab Taurat tertulis :
“Nabi Musa melarang umatnya memakan darah, minum minuman keras dan makan daging babi dan sebagainya.” (imamat, 3:17, 17:12, 10:18, 11:17)
Dalam kitab alquran tertulis:
“sesungguhnya yang Dia haramkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih atas nama selain dari Allah.” (Albaqoroh, 2:173)
“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala-berhala dan panah-panah undian itu hanyalah suatu kecemaran dari perbuatan syaitan. Maka jauhilah itu semuanya supaya kamu berbahagia.” (Al-Maidah, 5:90)
Agama Islam itu Fitriah
Ajaran agama Islam itu berguna apabila diimani dan diamalkan (Kanzul  Umal, juz I/260). Guna mengimani kebenaran agama Islam itu diperlukan keyakinan (Kanzul  Umal, juz III/7331) dan keyakinan itu bisa diperoleh melalui ilmu atau makrifat, ilmu atau makrifat agama Islam itu terdapat dalam kitab suci Alquran dan untuk mendapatkan isi kandungan makrifat  Alquran itu hari harus mendapat anugerah kesucian dari Allah (Qs 56:80). Pendek kata keyakinan akan kebenaran agama Islam itu sangat dibutuhkan untuk mendatangkan kekuatan dalam mengamalkannya, sehingga antara iman dan amal menjadi terpadu dalam diri orang Islam.
Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Iman tidak diterima tanpa amal dan amal tidak diterima tanpa iman.” (HR Ibnu Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” dari ibnu  Umar Radhiyallaahu’anhu; Kanzul Umal,juz I/260)
“iman dan amal itu bagaikan dua bersaudara dalam berteman, Allah tidak akan menerima satu dari keduanya, kecuali dengan kawannya.” (HR Ibnu Syahin dalam “As-Sunnah” dari Ali Radhiyallaahu’anhu dan Kanzul Umal, juz I/59)
Jadi berdasarkan kedua hadits diatas setiap ajaran Agama Islam itu bisa dipahami dan dinalar oleh akal, sehingg tak ada tekanan yang dipaksakan kepada akal untukmenerimanya. Ajaran Islam yang demikian inlah yang mampu mendatangkan keyakinan yang benar dan mampu menumbuhkan kekuatan untuk mengamalkannya. Dengan demikian Agama Islam mampu melahirkan iman dalam hati. Iman yang demikian itu merupakan landasan bagi perbuatan orang Islam. Jadi dalam Agama Islam itu tidak ada ajaran yang dogmatis, yaitu suatu ajaran yang harus diterima walaupun bertentangan dengan akal. Apalagi memaksakan kehendak, itu bertentangan dengan Islam.
Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Agama seseorang tergantung akalnya, dan siapa yang tidak memiliki akal ia tidak mempunyai agama.”(HR. Abusy-Syeikh dalam “Ats-Tsawaab”, dan Ibnu An-Najjar dari sahabat Jabir Radhiyallahu’anhu. Dan Kanzul-Umal, Jus III/7033)
Sehubungan dengan masalah iman ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan bahwa “Iman itu adalah keyakinan’ (Kanzul Umal, juz III/7331). Dan keyakinan itu diperoleh berdasarkan ilmu, dan ilmu itu berkaitan dengan akal dan hati manusia. Inilah iman yang sejati atau yang sempurna, yaitu iman yang dihiasi dengan rasa malu kepada Allah jika berbuat buruk atau meninggalkan kewajiban, dalam menunaikan tugas senantiasa menggunakan pakaian takwa, artinya ia selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan senantiasa membekali diri dengan ilmu untuk menyokong tegarnya iman dan menambah wawasan yang luas.
Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Iman itu telanjang, hiasannya ialah rasa malu, pakaiannya adalah takwa, dan hartanya adalah pemahaman (ilmu).” (HR Ibnu An-Najjar dari Abu Hurirah Radhiyallaahu’anhu; dan Kanzul Umal, juz I/87)
Guna mengimani  kebenaran Agama Islam, seseorang tidak harus bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, sebab kebenaran ajaran Islam yang telah beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam ajarkan itu bisa diyakini kebenarannya melalui proses ilmu. Oleh karena itu,   tidak ada masalah yang bisa merintangi orang-orang yang hidup sesudah beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam  wafat untuk mengimani kebenaran beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam  dan agama Islam yang telah beliau ajarkan.
Beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam  bersabda:
“Berbahagialah bagi orang yang telah bertemu aku dan ia mengimani aku; dan berbahagialah bagi orang yang tidak bertemu aku, kemudian mengimani aku.” (HR Ibnu Annajjar dari Abu Hurairah r.a; dan Kanzul Umal, juz I/48)
Agama Islam Mampu Mengangkat Derajat Manusia
Umat Islam pada zaman Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam  diberi julukan sebagai umat wasath (QS 2:142), artinya umat yang mengambil jalan tengah atau adil dalam menyikapi ajaran-ajaran yang ada pada waktu itu. Sebagai umat Islam selalu bersikap lapang dada, mereka tidak apriori dan tidak selalu menolak setiap ajaran dari agama-agama lain dan tidak pula menerima begitu saja semua ajaran dari agama-agama lain sebelum mereka teliti, tetapi sebaliknya mereka selalu bersikap kritis dan selektif terhadap semua ajaran agama yang ada pada waktu itu. Setiap ajaran yang sesuai dengan kitab suci Alquran mereka ambil dan setiap ajaran yang bertentangan dengan Alquran mereka tolak. Sikap demikian inilah yang membuat umat Islam itu lebih baik dan lebih unggul dibandingkan umat lainnya, karena mereka menempatkan diri mereka sebagai saksi bagi umat manusia (QS 2:143). Dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya selalu mewarnai dalam kehidupan mereka.
Tujuan Agama Islam
Agama Islam diwahyuan oleh Allah mempunyai tujuan:
  1. Mendatangkan perdamaian dan menyatukan umat manusia dalam satu persaudaraan (QS 2:4, 213 & 285)
  2. Menghimpun segala kebenaran yang pernah diajarkan oleh para nabi yang diutus sebelum nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam (QS 98: 2-3)
  3. Meluruskan kesalahan dan menyaring ajaran yang benar (QS 5:48)
  4. Mengajarkan dan memberikan contoh ajaran kebenaran yang sempurna abadi (QS 5:3)
Janji Alah kepada Orang Islam
Orang yang dengan hati tulus berserah diri kepada apa yang dikehendaki oleh Allah dan berbuat baik kepada sesama makhluk, baik manusia maupun bukan manusia, baginya diberi pahala surga dari sisi-Nya (QS 2: 111-112). Gambaran surga itu adalah apabila ia menghadapi waktu sekarang, hatinya mereka berkecukupan, apabila ia menatap masa yang akan datang, hatinya tidak merasa takut dan khawatir dan jika ia mengingat masa lalunya, hatinya dihindarkan dari rasa susah (QS 2:112) inilah surga yang diberikan kepada orang Islam di dunia ini. Sebab ia telah berhasil mencintai Allah taala dengan mengorbankan segala yang dimilikinya, sehingga Allah ridha kepadanya dan ia pun ridha kepada-Nya (Qs 98:8). Orang yang demikian inilah yang dijanjikan akan mendapat dua surga di dunia ini dan surga di alam akhirat nanti (QS 55:3)

sumber : http://agama-islam.org

HIDAYAH ?

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”.          “Ihdi” berarti “pimpinlah, tunjukilah, beri hidayahlah”.

Arti “hidayah” ialah menunjukkan sesuatu jalan atau cara yang mengantarkan orang kepada yang ditujunya, dengan baik. Oleh karena itu, ada macam-macam hidayah yang telah diberikan Allah kepada manusia antara lain hidayah naluri, hidayah panca indra, hidayah akal pikiran dan hidayah agama.
a.     Hidayah Naluri (gharizah).
         Manusia begitu juga binatang dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya “naluri”. Dalam bahasa arab disebut “gharizah”. Suatu misal, naluri “ingin memelihara diri” (mempertahankan hidup). Kelihatan oleh kita seorang bayi yang merasa lapar dia menangis. Sesudah terasa di bibirnya mata susu ibunya, dihisapnyalah sampai hilang laparnya. Perbuatan ini dia lakukan tanpa seorangpun  yang mengajarkan kepadanya. Bukan pula timbul dari pengalamannya. Melainkan hanya semata-semata ilham dan petunjuk dari Allah kepadanya untuk mempertahankan hidupnya. Kelihatan pula oleh kita lebah membuat sarangnya, laba-laba membuat jaringnya, semut membuat lubangnya dan menimbun makanan dalam lubang itu. Semua itu dikerjakan oleh binatang-binatang tersebut untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara dirinya masing-masing dengan dorongan nalurinya semata-mata.
         Gharizah-gharizah itu --sebagaimana telah disebutkan-- terdapat pada manusia dan binatang. Perbedaannya, gharizah manusia bisa menerima pendidikan dan perbaikan sedangkan gharizah binatang tidak. Oleh sebab itu manusia bisa maju tetapi binatang tidak, hanya tetap seperti sediakala. Gharizah-gharizah itu adalah dasar bagi kebaikan, sebagaimana diapun juga dasar bagi kejahatan. Sebagai contoh:
  • Karena gharizah “ingin memelihara diri” maka orang berusaha, berniaga, bertani. Artinya, mencari nafkah secara halal. Tetapi karena gharizah “ingin memelihara diri” itu pulalah orang mencuri, menipu, merampok dan lain-lain.

  • Karena gharizah “ingin tahu” orang suka mempelajari ilmu. Tetapi karena gharizah itu pulalah orang suka mencari-cari “aib dan rahasia” sesamanya, yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan.

Demikianlah seterusnya dengan gharizah-gharizah yang lain.

Gharizah tidak dapat dihilangkan dan tak ada faedah membunuhnya. Ada ahli fikir dan pendidik yang hendak memadamkan gharizah karena melihat aspek yang tidak baik (jahat) itu, sebab itu diadakan oleh mereka macam-macam peraturan agar mengikat kemerdekaan anak-anak supaya gharizah jangan tumbuh atau kalau ada yang tumbuh  akan mati. Boleh jadi karena kerasnya tekanan dan kuatnya rintangan terhadap suatu gharizah maka kelihatan seolah-olah gharizah telah padam. Tetapi manakala ada yang membangkitkannya maka grarizah akan timbul kembali. Oleh karena itu kendatipun gharizah merupakan dasar bagi kebaikan, sebagaimana dia juga menjadi dasar bagi kejahatan, tetapi kewajiban manusia bukanlah menghilangkannya melainkan hanya mendidik dan melatihnya supaya dapat dimanfaatkan dan disalurkan kearah yang baik.
Allah telah menganugerahkan kepada manusia bermacam-macam gharizah untuk menjadi hidayah (petunjuk) dan agar dipakai dengan cara yang bijaksana.
 
b.    Hidayah Pancaindera.
Karena gharizah sifatnya belum pasti maka  ia belum cukup untuk dijadikan hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah ta’ala manusia dilengkapi lagi dengan panca indera. Panca indera amat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan fikiran manusia. Para ahli pendidikan berkata “Al Hawassu abbaabulma’rifah” (Panca indera adalah pintu-pintu pengetahuan). Maksudnya, dengan panca indera manusia dapat berhubungan dengan alam yang di luar. Dalam arti, sampainya sesuatu dari alam yang diluar ke dalam otak manusia melalui panca indera. Namun demikia belum cukup juga untuk menjadi pokok-pokok kebahagiaan manusia. Banyak benda dalam alam ini yang tidak dapat didengar oleh telinga. Malah selain dari alam Mahsusat (yang hanya dapat ditangkap oleh panca indera), ada lagi alam ma’qulat (yang hanya dapat ditangkap dengan akal). Panca indera hanya dapat menangkap alam mahsusat. Tangkapannya tentang yang mahsusat itupun tidak selamanya benar, kadang-kadang salah. Inilah yang dinamakan dalam ilmu jiwa “Ilusi Optik” (tipuan pandangan), dalam bahasa Arab disebut “Khida’an Nazhar”. Oleh karena itu manusia membutuhkan lagi hidayah selain hidayah yang kedua ini. Maka dianugerahkan lagi oleh Allah hidayah yang ketiga yaitu “Hidayah Akal”.

c.     Hidayah Akal (fikiran) Dengan akal, dapatlah manusia menyalurkan gharizah ke arah yang baik, agar gharizah menjadi pokok bagi kebaikan. Dengan akal, dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan panca inderanya, membedakan buruk dengan baik. Dengan akal, manusia bahkan sanggup menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma’qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, ma’nawi dan ghaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya.
Namun akal manusia belum juga memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Apalagi pendapat akal bisa bermacam-macam. Yang baik menurut fikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B. Malah banyak manusia salah mempergunakan akalnya, atau akalnya dikalahkan oleh hawa nafsu dan sentimennya. Hingga yang buruk menjadi baik dalam pandangannya dan yang baik menjadi buruk. Dengan demikian nyatalah bahwa gharizah ditambah dengan pancaindera dan ditambah pula dengan akal belum cukup untuk menjadi hidayah yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hidup jasmani dan rohani, di dunia maupun di akhirat kelak.           Kalau diperhatikan agama-agama dan kepercayaan yang diciptakan oleh manusia (Al Adyaan Al Wadh’iy-yah) tampak bahwa pada jiwa manusia telah ada bibit-bibit suka beragama. Yang demikian itu ialah karena manusia mempunyai sifat merasa berhutang budi, suka berterima kasih dan membalas budi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Maka dikala diperhatikannya dirinya dan alam yang disekelilingnya, seperti roti yang dimakannya, tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya, binatang ternak yang digembalakannya, matahari yang memancarkan sinarnya, hujan yang turun dari langit yang menumbuhkan tanam-tanaman, akan merasa berhutang budilah ia kepada suatu “Dzat Yang Ghaib” yang telah berbuat baik dan melimpahkan nikmat yang besar kepadanya. Didapatnyalah dengan akalnya bahwa “Dzat Yang Ghaib” itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya segala sesuatu yang ada di alam ini, segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya. Karena dia merasa berhutang budi kepada suatu “Dzat Yang Ghaib” itu maka difikirkannyalah bagaimana cara berterima-kasih dan membalas budi atau dengan perkataan lain bagaimana cara menyembah “Dzat Yang Ghaib” itu.
          Akan tetapi masalah cara menyembah “Dzat Yang Ghaib” adalah suatu masalah yang sukar, yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Oleh sebab itu didalam sejarah tampak bahwa tidak pernah ada keseragaman  dalam hal ini. Bahkan akal fikirannya akan membawanya kepada kepercayaan membesarkan alam disamping membesarkan “Dzat Yang Ghaib” itu. Karena fikirannya masih sederhana dan karena belum dapat menggambarkan di otaknya bagaimana menyembah “Dzat Yang Ghaib” maka dipilihnya diantara alam ini suatu yang besar, atau yang indah, atau yang banyak manfaatnya atau suatu yang ditakutinya untuk jadi perlambang bagi “Dzat Yang Ghaib” itu. Pernah ada yang mengagumi matahari, bulan dan bintang-bintang, atau sungai-sungai, binatang dan lain-lain maka disembahnyalah benda-benda itu, sebagai lambang bagi menyembah Tuhan atau “Dzat Yang Ghaib” itu. Dan diciptakannyalah cara-cara beribadah (menyembah) benda itu. Dengan ini timbullah pula suatu kepercayaan yang dinamakan “Kepercayaan menyembah kekuatan alam”, sebagaimana terdapat di Mesir, Kaledonia, Babilonia, Assyria dan di tempat-tempat lain di zaman purbakala.
          Dengan penjelasan tersebut tampaklah bahwa manusia menurut fitrahnya suka beragama, suka memikirkan dari mana datangnya alam ini, dan kemanakah kembalinya. Bila dia memikirkan “dari mana datangnya alam ini”, akan sampailah dia kepada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampailah dia kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan itu (Tauhid). Karena, akidah (keya-kinan) tentang keesaan Tuhan inilah yang lebih mudah, dan lebih lekas difahami oleh akal manusia. Dengan demikian dapatlah kita tegaskan disini bahwa manusia menurut nalurinya adalah beragama tauhid. Sejarah telah menerangkan bahwa bangsa Kaledonia pada mulanya adalah beragama tauhid, barulah kemudian mereka menyembah matahari, planet-planet dan bintang-bintang yang mereka simbolkan dengan patung-patung. Sesudah raja Namrudz meninggal, merekapun mendewakan dan menyembah Namrudz. Bangsa Assyiria-pun pada asalnya beragama tauhid, kemudian mereka telah lupa kepada akidah tauhid itu dan mereka persekutukanlah Tuhan dengan bintang-bintang dan inilah yang dipusakai oleh orang-orang Babilonia.
          Adapun bangsa Mesir, bila diperhatikan nyanyian-nyanyian yang mereka kumandangkan dalam upacara-upacara peribadahan, jelaslah bahwa bukanlah seluruh bangsa Mesir purbakala itu orang-orang musyrik dan watsani, melainkan di antara mereka juga ada orang-orang muwahidin, penganut akidah tauhid. Di dalam nyanyian-nyanyian itu terdapat ungkapan sebagai berikut:
 
“Dialah Tuhan Yang Maha Esa,
yang tiada sekutu bagi-Nya.
Dia menciptakan seluruh makhluk,
sedang Dia sendiri tak ada yangmenciptakan-Nya.
Dialah Tuhan Yang Maha Agung,
Pemilik langit Dan bumi,
dan Pencipta seluruh makhluk”

          Akan tetapi umat manusia yang dengan akalnya telah sampai kepada akidah tauhid, seringkali akidah tauhidnya menjadi kabur atau tidak murni lagi dan jadilah mereka “mempersekutukan Tuhan”. Biarpun para pendeta kadang-kadang takut dan segan untuk memberantas kepercayaan yang mempersekutukan Tuhan, akan tetapi dapat ditegaskan bahwa akidah tauhid tidak pernah lenyap sama sekali. Kepercayaan kepada adanya suatu Dzat Yang Maha Esa tetap ada. Dialah Yang Maha Kuasa,Yang Maha Adil, Maha Pemurah, Pencipta seluruh yang ada. Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang lain mereka anggap hanyalah sebagai pembantu dan pelayan atau simbol bagi Yang Maha Esa itu.
          Bangsa Arab sendiri sebelum datang agama Islam kalau ditanya, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ini?” Mereka menjawab, “Allah”. Dan kalau ditanya, ”Adakah Al Laata dan Al Uzza menjadikan sesuatu yang ada pada alam ini?” Mereka menjawab, “Tidak”. Mereka sembah dewa-dewa hanya untuk mengharapkan perantaraan dan syafaat dari mereka terhadap Tuhan yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ketika menceriterakan perkataan  musyrikin Arab itu:


MAA NA’BUDUHUM ILLAA LIYUQARRIBUUNAA ILALLAAHI ZULFAA.

“Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan (kedudukan) kami kepada Allah, dengan sedekat-dekatnya”. (QS. 39. Az Zumar: 3).
          Manakala manusia memikirkan, “Kemanakah kembalinya alam ini?”, akan sampailah dia kepada keyakinan bahwa dibalik hidup di dunia yang fana ini akan ada lagi hidup di hari kemudian yang kekal dan abadi. Tetapi dapatkah manusia dengan akal dan fikirannya semata-mata mengetahui apakah yang perlu dikerjakan atau dijauhinya sebagai persiapan untuk kebahagiaan hidup di hari kemudian (hari akhirat) itu? Jawabnya, tentu saja tidak, walaupun manusia telah diberi oleh Allah akal untuk jadi hidayah baginya, disamping gharizah dan panca indera. Hidayah akal belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Begitu juga manusia mempunyai tabiat suka beragama, dan dengan akalnya dia kadang-kadang telah sampai kepada akidah tauhid. Akan tetapi tauhid yang telah dicapainya dengan akalnya sering pula menjadi kabur dan tidak murni lagi. Manusia dengan mempergunakan akalnya memang dapat juga sampai kepada kesimpulan tentang adanya akhirat, akan tetapi dengan akal saja belum dapat mengetahui apa yang perlu dikerjakannya untuk kebahagiaan hidupnya di akhirat nanti.

          Maka untuk menyampaikan manusia kepada akidah tauhid yang murni, yang tidak dicampuri sedikitpun oleh kepercayaan-kepercayaan menyembah dan membesarkan selain Allah dan untuk membentangkan jalan yang benar yang akan ditempuhnya dalam perjalanannya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, dan untuk jadi pedoman bagi hidupnya di dunia ini, manusia membutuhkan hidayah yang lain disamping hidayah-hidayah yang telah disebutkan itu. Maka  didatangkanlah oleh Allah hidayah yang keempat yaitu “Agama” yang dibawa oleh para rasul as.

d.  
 Hidayah Agama.Oleh karena itu maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Yang pertama kali ditanamkan oleh para rasul adalah kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, guna membersihkan i’tikad manusia dari kotoran syirik (mempersekutukan Tuhan). Rasul membawa manusia kepada kepercayaan tauhid dengan akal dan logika, yaitu dengan mempergunakan dalil-dalil yang tepat dan logis. Hal tersebut dapat kita simak melalui dialog antara Nabi Ibrahim dengan Namrudz, Nabi Musa dengan Fir’aun, dan seruan-seruan  Al Qur’an kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka mempergunakan akal. Disamping kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, para rasul juga membawa kepercayaan tentang akhirat, dan malaikat-malaikat.

Percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta adanya malaikat dan hari kemudian itulah yang dinamakan “Al Iman bil Ghaib” (percaya kepada yang ghaib). Dan itulah yang jadi pokok bagi semua agama Ketuhanan. Semua agama yang datangnya dari Tuhan alias “Agama Samawi” mempercayai keesaan Tuhan, serta adanya malaikat, dan hari akhirat. Disamping ‘aqaid (kepercayaan-kepercayaan) yang disebutkan itu, para rasul juga membawa hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran. Mengenai hukum dan peraturan yang dibawa masing-masing rasul berlainan. Artinya, apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tidak sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa, tidak serupa dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Sebabnya karena hukum-hukum dan peraturan-peraturan itu haruslah sesuai dengan keadaan tempat dan masa. Maka syari’at yang dibawa oleh nabi-nabi sesuai dengan masanya masing-masing. Jadi yang  berlainan ialah hukum-hukum furu’ (cabang-cabang), sedangkan pokok hukum agama seperti akidahnya adalah sama. Berhubung Muhammad saw. adalah seorang Nabi Penutup maka syariat yang dibawanya, diberi oleh Tuhan sifat-sifat tertentu agar sesuai dengan segala masa dan keadaan.
Agama Islam sebagai hidayah dan senjata hidup yang penghabisan, atau jalan kebahagiaan yang terakhir, telah dianugerahkan oleh Allah, tetapi adakah semua orang pandai mempergunakan senjata itu? Dan adakah semua hamba Allah sukses dalam menempuh jalan yang telah dibentangkan olehNya?
Tidak!  Banyak manusia salah dalam menerapkan agama; beribadah (meyembah Allah) tidak sebagai yang diridhai oleh Yang Disembah. Melaksanakan syariat tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Pembuat syariat itu. Karena itu kita diajari oleh Allah memohonkan kepada-Nya agar diberi-Nya ma’unah, dibimbing dan dijaga-Nya selama-lamanya, serta diberi-Nya Taufik agar dapat memakai semua macam hidayah yang telah dianugerahkan-Nya itu menurut semestinya. Gharizah supaya dapat disalurkan kearah yang baik, panca indera supaya digunakan secara benar, akal supaya sesuai dengan yang benar, tuntunan-tuntunan agama agar dapat dilaksanakan menurut yang dimaksudkan oleh Yang menurunkan agama itu, dengan tidak ada cacat, janggal dan salah.
Tegasnya, manusia yang meskipun telah diberi oleh Tuhan bermacam-macam hidayah namun belumlah cukup hanya dengan hidayah-hidayah saja, melainkan masih membutuhkan ma’unah dan bimbingan dari Allah (yaitu taufik-Nya). Adapun  yang dimaksud dengan taufik disini ialah kurnia Allah swt. kepada hamba-Nya sehingga dengan kurnia itu dia mampu mentaati perintah-Nya dan mampu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka ma’unah dan bimbingan itulah yang kita mohonkan kepada Allah. Dengan perkataan lain, Allah telah memberi kita hidayah-hidayah tersebut, tak obahnya seakan-akan dia telah membentangkan di muka kita jalan raya yang menyampaikan kepada kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Sumber : www.akmaliah.com ; http://mediabilhikmah.multiply.com

PILAR SUBSTANSI ISLAM

Firman Allah dalam Surah Ibrahim (14) ayat 24-25

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Ayat 24 dan 25 tersebut menggambarkan sistem ajaran agama Islam sebagai sebatang pohon. Akar merupakan simbol dari aqidah. Seorang muslim yang baik harus memiliki aqidah yang teguh dan bersih dari segala macam syirik. Cabang merupakan simbol ibadah. Seorang muslim harus dapat melakukan ibadah dengan benar sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad s.a.w. Buah merupakan simbol akhlaq. Seorang muslim harus dapat menampilkan akhlaq yang baik.

Aqidah
Aqidah adalah suatu keyakinan yang tersimpul dengan kokoh didalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Perjanjian kita dengan Alloh swt, kita ikrarkan dalam kalimah syahadat.
Makna syahadat
Makna pertama syahadat adalah pernyataan. Al Qur'an Surah Ali Imran (3) ayat 18,
شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.



Makna kedua adalah sumpah atau janji. Lihat Al Qur'an Surah Al A’raf (7) ayat 172,
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",



Agar syahadat diterima ada syarat-syaratnya antara lain:
  • Al 'ilmu : mengetahui maknanya dengan benar
  • Al yaqin : meyakini kandungan kalimat syahadat dengan keyakinan yang kuat ( qs.Al Hujurat : 15)
  • Al Qabul : Penerimaan yang total atas konsekuensi kalimat tersebut dengan hati dan lisannya.
  • Al Inqiyad : Tunduk terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya
  • Ash Shidq : kejujuran (qs Albaqarah : 8-10)
  • Ikhlas : menjauhi syirik besar, hanya mengharapkan ridha Allah swt.
Ma’na Laa ilaaha illallah
Laa khaliqo illallah : tiada pencipta kecuali Allah (Qs 2 : 21)
Laa Raziq illallah : tiada pemberi rizki kecuali Allah (Qs Qs Fathir : 3)
Laa mudabbira illallah : tiada pengelola selain Allah (Qs Yunus : 3)
Laa hakima illallah : tiada pembuat hukum kecuali Allah (Qs Al Anam : 57)
Laa Ghoyata illallah : tiada tujuan kecuali Allah (Qs Al Insyirah : 8, Qs Al An’am : 162-163)
Laa ma’buda illallah : tiada sesembahan kecuali Allah (Qs An Nahl : 36)
Ma’na Muhammadurrasulullah
Rasulullah saw adalah satu-satunya teladan/uswatun hasanah
Rasulullah adalah satu-satunya teladan yang dicintai, ditaati dan diikuti.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ
اللَّهَ كَثِيراً

Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Qs Al Ahzab : 21)

Dampak Positif Syahadat.
  • Syahadat jika dipahami secara benar akan memberikan dampak positif bagi seorang muslim, yaitu melahirkan cinta (mahabah) dan ridha. Seorang muslim harus memberikan cintanya yang tinggi kepada Allah swt, kemudian kepada Rasulullah dan jihad di jalan Allah (Qs At Taubah : 24)
  • Mencintai bapak/ibu, isteri, anak, saudara dan kaum kerabat (keluarga), kekayaan, perniagaan, rumah tidak dilarang, tetapi diletakkan pada dataran cinta yang kedua (Qs Ali Imran : 14)
Yang dilarang adalah meletakkan hal-hal yang sifatnya duniawi pada tingkatan cinta yang utama, melebihi kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad fi sabilillah (Qs 9 : 24)
Mencintai hal-hal duniawi sejajar dengan kecintaannya kepada Allah juga dilarang (Qs 2 : 165)
Setiap muslim harus ridha dengan segala keputusan dan aturan Allah dan Rasul-Nya, ridha lahir batin tanpa ada sedikitpun rasa tidak puas dalam dirinya (Qs An Nisa : 65)
Rasulullah saw bersabda : “ Barang siapa yang mengatakan ‘ Aku ridha Allah Rabbku dan Islam agamaku dan Muhammad nabi(rasul)ku, maka wajib baginya masuk surga” (HR Abu Dawud)
Cinta dan ridha diwujudkan dengan ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya
Keta’atan itu sebagai bukti rasa cinta yang mendalam sehingga mau melakukan apapun yang yang diperintahkan oleh yang dicintainya dan meninggalkan apapun yang dilarang olehnya.
“Dan Ta’atilah Allah dan Rasul supaya kamu diberi rahmat” (Qs Ali Imran : 132)

Ibadah
Pengertian Ibadah: Ibadah artinya penghambaan diri kita sebagai makhluk kepada Allah sebagai Tuhan kita. Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam rangka menta’ati perintah-perintah-Nya

Hakikat penciptaan manusia (Qs Adz Dzariyat : 56)

Sumber: LKID ; http://mediabilhikmah.multiply.com