بسم الله الرحمن الرحيم

Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.”

(HR. Ahmad, Bukhari, Tarmidzi.)

Tampilkan postingan dengan label tadzkirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tadzkirah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2011

Nasihat Luqmaan Kepada Anaknya..

Untuk para orangtua diluar sana, mari kita memberi makan ruh anak-anak kita dengan nasehat2 yang sudah disediakan Allah di dalam Al Quranul Karim, dan tiada salahnya jika kita mencontoh Luqman Al-Hakim dalam memberikan wasiat atau nasehat kepada anaknya. Di dalam suroh Luqman (31), Allah swt mengumpulkan dan melestarikan nasehat2 tsb yang terdapat dari ayat 13 sampai 19, mari kita coba simak bersama2 ^^ :
    12Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". 
    13Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". 
    14Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 
    15Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 
    16(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. 
    17Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
    18Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 
    19Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
  1. Jangan mempersekutukan Allah. (Luqman [31]:13)
  2. Berbuat baik kepada dua orang ibu-bapanya. (Luqman [31]:14-15)
  3. Sadar akan pengawasan Allah (Luqman [31]:16)
  4. Dirikan salat. (Luqman [31]:17)
  5. Perbuat kebajikan (Luqman [31]:17)
  6. Jauhi kemungkaran (Luqman [31]:17)
  7. Sabar menghadapi cobaan dan ujian (Luqman [31]:17)
  8. Jangan sombong. (Luqman [31]:18-19)

Tetapi siapakah sebenarnya Luqman ini sampai Beliau memiliki tempat di sisi Allah semulia ini, sampai dimasukkan menjadi salah satu suroh Al Quranul Karim..? Mari kita coba bahas ^^

Dipetik dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Luqman bukanlah seorang nabi maupun raja tetapi beliau hanyalah seorang pengembala ternakan yang berkulit hitam. Lalu Allah telah memerdekakannya dan sesungguhnya Dia ridho dengan segala kata-kata dan wasiat Luqman. Maka karena itu, kisah ini diceritakan di dalam Al Quran agar kita semua dapat mengambil pelajaran dan berpegang dengan wasiat-wasiatnya.”
Ibnu Kathir berkata: ‘Ulama’ salaf berselisih pendapat tentang diri Luqman; adakah dia seorang nabi atau pun seorang hamba yang soleh tanpa taraf kenabian? Di antara dua pendapat ini, kebanyakan mereka berpegang dengan pendapat yang kedua.’
Beliau berkata lagi: “Yang masyhur di kalangan Jumhur ulama’ ialah Luqman AI-Hakim; adalah seorang yang bijaksana bertaraf wali dan bukannya seorang nabi. Bukan sedikit ulama’  yang menyatakan tentang perkara ini. Di antara para ulama’ tersebut ialah seperti Mujahid, Sa’id bin AI-Musayyab dan Ibnu Abbas. Wallahu A’lam.”
Ibnu Kathir ada menyebutkan di dalam kitab sejarahnya: “Beliau ialah Luqman bin Unqaa’ bin Sadam.” Diceritakan dari As­ Suhaili, dari Ibnu Jarir dan AI-Qutaibi: “Beliau ialah Luqman bin Tharan”
Dikatakan bahawa beliau ialah anak kepada AI- Baura’. Ibnu Ishaq ada menyebutkan beliau ialah Luqman bin AI Baura’ bin Tarikh iaitu Aazar Abu Ibrahim AI-Khalil.
Wahab berkata: “Beliau adalah anak saudara perempuan Nabi Ayyub a.s.” Menurut Muqatil pula: “Beliau adalah sepupu Nabi Ayyub a.s.”
Dikatakan, beliau adalah dari kalangan anak Aazar dan telah hidup selama seribu tahun. Sempat hidup bersama .dengan Nabi Daud a.s dan mengambil ilmu darinya. Luqman telah mengeluarkan fatwa sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan dan setelah baginda nabi Daud as diutus kepada umat, beliau berhenti dari mengeluarkan fatwanya lagi. Ibnu Kathir berkata: “Dikatakan, beliau , adalah seorang Qadhi di zaman Nabi Daud a.s. Wallahu A’lam.”
AI-Allahamah AI-Alusy berkata: “Kebanyakan pendapat mengatakan bahwa beliau hidup di zaman Nabi Daud a.s.” Katanya lagi: “Orang juga berselisih pendapat, adakah beliau seorang yang merdeka atau seorang hamba? Kebanyakan pihak mengatakan beliau adalah seorang hamba Habsyi”
Ibnu Qutaibah berkata: “Luqman adalah seorang hamba Habsyi kepada seorang lelaki dari kalangan bani Israil. Kemudian beliau dibebaskan dan diberikannya harta.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia telah berkata: Rasullullah s.a.w. pernah bersabda:
“Adakah engkau semua tahu siapakah Luqman? “Mereka pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih tahu.” Baginda bersabda: “Dia adalah seorang Habsyi.” Pendapat yang mengatakan dia adalah seorang habsyi, adalah dari lbnu Abbas dan Mujahid.
As-Suhaili berkata: “Luqman adalah Naubah dari penduduk Ielah ( Sebuah bandar di tepi laut merah )” Demikian juga dipetik oleh Qatadah, dari Abdullah bin Az-Zubair: Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Apakah cerita terakhir yang sampai kepadamu tentang perihal diri Luqman? “Jabir menjawab: “Dia adalah seorang yang pendek, pesek/mancung hidungnya dari keturunan Naubah.” Sebagaimana yang disebutkan dari Sa’id bin AI­ Musayyab, katanya: “Luqman adalah dari Sudan, Mesir.”
AI-Hassan AI-Basri pula berkata: “Luqman telah membina sebuah singgasana di Ramlah, Syam. Pada masa itu, tempat tersebut masih lagi belum dibangun. Dia berada di sana sampai lanjut usia dan meninggal dunia.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Aku telah diberitahu bahwa kubur Luqman adalah di antara Masjid Ar-Ramlah dan tempat didirikan pasar pada hari ini. Di tempat tersebut terdapat 70 kubur nabi-nabi  sebelum Luqman.
Dilaporkan, bahawa Luqman adalah seorang mufti sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan. Ketika baginda diutus kepada umatnya, Luqman berhenti dari memberikan fatwa. Ada orang bertanya padanya tentang hal itu lalu dia pun berkata: “Adakah aku tidak berhenti apabila aku telah merasa cukup?!! “
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Mujahid: “Beliau adalah seorang Qadhi di kalangan kaum bani Israil di zaman Nabi Daud a.s”
Namun siapapun Beliau, yang terpenting Beliau adalah seorang yang mempunyai hikmah kebijaksanaan. Kata-katanya diridhoi Allah dan dipatenkan didalam Al Quran.
semoga bermanfaat ^^
sumber : wikipedia; http://al-quran.bahagia.us; http://aburedza.wordpress.com/

Kamis, 24 November 2011

Mari Kita Evaluasi Kembali..

Pernahkah kalian merasa/berpikir; saya solat wajib, saya pun tahajjud, solat rawatib pun tak pernah tertinggal, tetapi mengapa saya masih kecolongan melakukan suatu perbuatan dosa atau sesuatu yang tidak seharusnya saya lakukan sebagai seorang yang solat? jujur saya pernah, sebenarnya ini juga merupakan pengalaman saya, dan saya mulai berpikir keras, apa kira2 akar dari persoalan ini? setelah saya pikir2, mungkin selama ini saya hanya mengerjakan solat sebagai rutinitas, mungkin saya hanya mengerjakan alih2 'mendirikan', solat tanpa ruh, dan doa yang dipanjatkan walaupun panjang dan dalam bahasa arab, kerap kali membuat saya hanya mengangapnya sambil lalu saja. 
Pernah satu kali setelah solat 'asr, saya secara sadar melakukan dosa. saya tahu itu dosa tapi tetap saya lakukan. saya merasa sedang diawasi, tapi tetap saya lakukan. tidak seperti pertama kali saya mengenal islam secara sadar, saya tekun dan begitu khusyuk, sampai2 saya berpikir "solat ini adalah solat terakhir saya" setiap saya solat. dan saya sebisa mungkin menghayati setiap arti ayat yang saya baca, setiap doa yang saya panjatkan. 
tetapi, terkadang kualitas keimanan saya jatuh begitu drastis, apa sebabnya? saya pun terkadang berbohong, dengan dalih bohong putih, padahal bohong ya tetap saja bohong apapun alasannya. saya menyalahkan syaiton karena telah mempengaruhi saya, tapi saya selalu mengkambinghitamkan syaiton, padahal itu adalah hawa nafsu saya sendiri sebagai seorang yang lemah iman. apakah kalian pernah merasakan hal seperti ini? 

Tetapi pagi ini saya lihat tayangan tausiyah di TV, membahas tentang godaan syaiton. dan kata Pak Ustadz-nya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan kualitas iman. yaitu :
1. meluruskan niat, membenarkan kembali niat kita untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim, karena memang syaiton itu tugasnya menggoda, dan sebagai ujian iman, jadi jika niat kita sudah lurus lillahi ta'ala, mudah2an Allah menolong kita dan melindungi kita dari pengaruh buruk syaiton.
2. berta'awudz, atau membaca ayat kursi. dan ada dua kalimat yang syaiton tidak akan bisa mengucapkannya yaitu kalimat tauhid (laa ilaaha illallah), dan istighfar (astaghfirullah), maka bacalah kalimah ini jika kita merasa syaiton sedang menggangu.

ini ada beberapa pengalaman saya, boleh dicoba hehe :
1. untuk memperbaiki solat, sebisa mungkin kita mengerti dan memaknai serta menghayati setiap ayat al qur'an yang kita baca maupun doa yang kita panjatkan, dan sadarkan dalam diri bahwa kita ini milik Allah dan  akan kembali hanya kepadaNya, dan anggaplah ini sebagai solat terakhir, jika mampu, menangislah, karena Allah suka orang yang menangis karena-Nya. saya percaya ketika kita mengangis karena-Nya, Dia sedang tersenyum melihat kita.
2. setiap akan melakukan dosa, alihkan ke kegiatan lain. seperti membaca al qur'an atau mendengar murottal. tidak perlu muluk2, baca terjemahannya saja dan mengerti isinya, sebisa mungkin mengangis, pasti pikiran akan teralihkan. jika tidak, bersikap keras terhadap diri anda, marahi dan tegaskan pada diri anda dan katakan keras2 : "ITU DOSA!!" jika tidak mempan, tampar diri anda (yang ini jangan ditiru) tetapi lebih baik berta'awudz dan berpikir ke hal2 yang menyedihkan seperti dimarahi guru, dijauhi teman, diejek sodara (haha ini yang saya lakukan dan berhasil :D)
3. usahakan pikiran hanya fokus mengingat Allah, setiap melakukan kegiatan ingat niatnya karena Allah. ingat dunia hanya sementara dan itu hanya sebuah ujian naik tingkat sebagai seorang hamba Allah. dan yang paling penting berdoa kepada Allah, mohon diberi kesabaran, keikhlasan dan petunjuk kepada kebenaran serta kekuatan keimanan dan ketakwaan.

tapi ini belum semua usaha yang ada, masih banyak hal lain yang patut dicoba untuk meluruskan diri dan niat kepada jalan Allah. jika ada yang mau berbagi mohon bantuannya ya. semoga bermanfaat. :)

Rabu, 23 November 2011

7 Wasiat JIBRIL !!!!!!!

Jabir bin ’Abdullah Al-Anshari Radhiyallah Anhu meriwayatkan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda :
1. “Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira kalau tetangga itu akan dijadikan sebagai ahli waris.
2. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memperlakukan istri sebaik mungkin sampai aku mengira kalau istri itu haram diceraikan.
3. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar sebaik mungkin dalam memperlakukan para budak sampai aku mengira suatu waktu nanti mereka harus dimerdekakan.
4. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar aku melakukan siwak (gosok gigi) sampai aku mengira kalau bersiwak itu wajib.
5. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk melakukan shalat berjama’ah sampai aku mengira Allah tidak akan menerima shalat, kecuali dengan berjama’ah.
6. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk mengerjakan shalat Tahajjud sampai aku mengira tidak ada tidur pada waktu malam.
7. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar senantiasa berdzikir kepada Allah sampai aku mengira tidak ada ucapan yang bermanfaat, kecuali dzikir kepada Allah.”

Rabu, 20 Juli 2011

7 Pintu Neraka

“Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)” (Qs al Hijr :44)


Diriwayatkan dalam Anwar Nu'maniyah dan Biharul Anwar bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saw memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:

1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.

2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.

3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).

4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.

5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.

6. Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saw maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: "Pintu ini untuk umatmu yang angkuh"; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.

Lalu, Nabi saw mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata: “Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?"

Kemudian Nabi saw mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (al-A'la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saw). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: " Aduhai! Sementara putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai”.

Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian ia berkata: "Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata "Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?”

Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi saw menjawab, "Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab”.

Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, "Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal". Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata, "Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Nabi SAW menjawab, "Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.

Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi SAW menangis dan meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit". Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini", Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman menjawab, "Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka)."



Jadi masihkah kita memandang remeh ancaman siksa neraka? Atau biarkan diri kita lalai dan sibuk dengan kesenangan dunia yang sementara ini?


sumber : http://advance-earth.blogspot.com/2010/03/7-pintu-neraka.html

SURAT DARI SETAN UNTUKMU

undefined
Aku melihatmu kemarin, saat engkau sudah bertahun-tahun bersama, Dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu . Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah. Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah. Dia sudah mencampakkan aku dari surga, Dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk membalaskannya. Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU. Dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan. Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, Dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka. Sehingga Kita bisa bersama dua kali Dan ini akan menyakiti hati ALLAH.
Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani. Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangnya , guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat padaorang tua , Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk. TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.

Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya. Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita. Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu. Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu. Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu. Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa. Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu. Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda. Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa. Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin. Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya. Begitulah anak-anak . Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang. Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi. Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu. Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit. Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh. Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu. Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

Catatan : Jika kau benar2 menyayangiku , kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun

Sabtu, 28 Mei 2011

Seputar Riba dan Judi

Riba :
Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Asal arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah swt:

(ihtazzat wa rabat) “maka hiduplah bumi itu dan suburlah.” (QS Al-Hajj: 5).
Dan, adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham.

1. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 275
[2:275] Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

  2. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 179
[2:179] Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

  3. QS. Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 130
[3:130] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

  4. QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 161
[4:161] dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

  5. QS. Ar-Ruum (Ar-Rum) [30] : ayat 39
[30:39] Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

6. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 278-279
[2:278-279] Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka permaklumkanlah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kami tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

7. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 276
[2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “(Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah, (kedua) sihir, (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq, (keempat) makan riba, (kelima) makan harta anak yatim, (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan, dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari V: 393 no: 2766, Muslim I: 92 no: 89, ‘Aunul Ma’bud VIII: 77 no: 2857 dan Nasa’i VI: 257).

Dari Jabir ra, ia berkata. “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955, Shahihul Jami’us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598).

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3539 dan Mustadrak Hakim II: 37).

Dari Abdullah bin Hanzhalah ra dari Nabi saw bersabda, “Satu Dirham yang riba dimakan seseorang padahal ia tahu, adalah lebih berat daripada tiga puluh enam pelacur.
(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230).


Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Tak seorang pun memperbanyak (harta kekayaannya) dari hasil riba, melainkan pasti akibat akhirnya ia jatuh miskin.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5518 dan Ibnu Majah II: 765 no: 2279).

Klasifikasi Riba
Riba ada dua macam yaitu riba nasiah dan riba fadhl.

Adapun yang dimaksud riba nasiah ialah tambahan yang sudah ditentukan di awal transaksi, yang diambil oleh si pemberi pinjaman dari orang yang menerima pinjaman sebagai imbalan dari pelunasan bertempo. Riba model ini diharamkan oleh Kitabullah, sunnah Rasul-Nya, dan ijma’ umat Islam.

Sedangkan yang dimaksud riba fadhl adalah tukar menukar barang yang sejenis dengan ada tambahan, misalnya tukar menukar uang dengan uang, menu makanan dengan makanan yang disertai dengan adanya tambahan.

Riba model kedua ini diharamkan juga oleh sunnah Nabi saw dan ijma’ kaum Muslimin, karena ia merupakan pintu menuju riba nasiah.

Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, masyarakat maupun perekonomiannya. Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsir Qurannya sebagai berikut:

1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

2. "Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya."Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

3. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan memudahkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.(Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

4. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma'ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi etika).

5. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (Ini ditinjau dari segi sosial).

Ini semua dapat diartikan, bahwa dalam riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l'home par l'hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api pertentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

Muncul pertanyaan, lalu jika ingin menyimpan uang, dimana? Dan bagaimana?
Jawabannya, tergantung dari niat si penyimpan. Tujuan awal si penyimpan itu apa. Apakah hanya sekedar ingin mengamankan uangnya atau memang untuk melipatgandakan uangnya. Jika tujuannya adalah yang pertama, insya Allah diperbolehkan. Jika tujuannya adalah yang kedua, itu jelas haram.
Ayah saya pernah cerita, kenalannya menyimpan uang yang tidak sedikit di bank. Tetapi setiap penarikan uang, ia meminta pegawai bank nya untuk memisahkan uang awalnya dengan uang yang berkembang dari bunga. Lalu Beliau hanya mengambil uang awal yang ia simpan saja, sisa uang bunga tersebut ia tinggalkan. Lalu pegawai bank-nya bertanya, ”bapak, ini sisanya mau diapakan?” beliau jawab, ”terserah, saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya saja, sisanya terserah pihak bank” pegawai bank itu bahagia bukan main, padahal adzab kubur sedang menanti-nanti..

Apakah Pajak = Riba ?

Jika kita melihat secara jernih pembagunan sebuah negara pasti memerlukan adanya dana yang besar untuk membangun tentunya, dan biasanya dana tersebut diambil oleh pemerintah dari rakyat di negara tersebut maupun dari cukai proses ekpor impor dan yang tak kalah peranannya juga dari perusahaan negara yang mengelola sumber-sumber kekayaan alam di negara tersebut.


Coba kita tengok sekilas berapa banyak uang yang ditarik oleh pemerintah melalui pos-pos pajak. Ada :
pajak pertambahan nilai (PPN ) sebesar 10% dari setiap transaksi,
pajak penghasilan (PPh) mulai dari 0 (nol) sampai 35%
pajak penjualan barang mewah (PPnBM) mulai dari 10 - 75 %
pajak bumi & bangunan
pajak kendaraan bermotor


bisa dibayangkan jika penghasilan kita terkena tarif pajak 35% dan sisa uangnya habis dibelanjakan dan terkena pajak PPN 10% , maka secara kasar dan gampangnya kita harus membayar pajak sebesar 45%, harta yang bisa kita nikmati dari 100% yang kita miliki hanya 65% saja, belum lagi kalau kita belanja dan harus membayar pajak untuk barang mewah serta pajak kendaraan bermotor maka besarnya pajak yang kita tanggung bisa lebih dari 50% ???.


Barangkali orang akan berkata, wajarlah jika orang kaya membayar pajak lebih tinggi dari pada orang miskin, karena mereka menikmati jalan dan sarana umum yang disediakan oleh pemerintah.Lalu bagaimana dengan orang miskin apakah tidak boleh menikmati sarana umum yang di sediakan oleh pemerintah???


Pertanyaan berikutnya, jika orang kaya ngemplang pajak ada sanksi hukum bagi mereka wajar karena mereka punya uang tapi tidak mau bayar, tapi yang lucu adalah jika orang miskin yang tidak mempunyai penghasilan tapi telat melaporkan akan kena denda????? (begitu menurut sumber informasi yg tahu ttg pajak).
Ini mungkin yang bikin kita senyum -senyum , aneh orang miskin tidak punya uang bukannya di bantu malah didenda.


Sebenarmya ada nggak sih kajian tentang pajak, sejarah pajak ,seberapa efektif dan dalam kondisi apa pajak diambil, bagaimana juga pajak dalam kajian syariah islam ?
Adakah pajak sama dengan Zakat? Atau apakah pajak sama dengan Riba?

Barangkali para penentuk kebijakan/pemerintah serta alim-ulama harus segera mengkaji dan merumuskan kembali dari dana apakah negeri ini akan dibangun, karena bila dana diambil dari zakat tentunya kebaikan dan keberkahan akan menanungi bangsa ini, atau justru sebaliknya jika diambil dari dana yang mengandung unsur riba tentulah malapetaka dan kesengsaraan akan senantiasa meliputi disetiap jengkal dan detik kehidupan bangsa ini.

QS Al-Baqarah ,ayat 275.
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba , padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

Cukuplah ibrah dari pemerintahan Umar bin Abdul Aziz menjadi landasan memerintah dan mengelola negara sehingga hanya dalam waktu tempo 2 tahun , orang miskin sudah menjadi muzaki (pembayar zakat) dan tidak ada lagi mutashik(penerima zakat) dinegerinya, karena sang Khalifah memerintah negerinya dengan aturan allah swt.

QS Ath-Thalaaq, ayat 3, 8-12
[65:3] .....Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

[65:8] Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan

[65:9] Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar.

[65:10] Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,

[65:11] (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

[65:12] Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Jika hukum Allah swt , telah tebukti membawa berkah pada masa Umar bin Abdul Azis, lalu kenapa kita tidak mau mengikutinya???

Mungkin inilah alasan mengapa membasmi pajak adalah salah satu misi Nabiyullah Isa as pada saat turun untuk yang kedua kalinya ke muka bumi yang renta ini kelak. Ya karena riba ini.

wallahu a'lamu bishowab.


Judi :
1. QS. Al-Baqarah [2] : ayat 219
[2:219] Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

  2. QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 29
[4:29] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

  3. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 90
[5:90] Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

  4. QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 91
[5:91] Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Judi itu adalah taruh. Taruhan, bertaruh. Adalah sama dengan mengundi nasib. Menggantungkan nasib pada objek yang diunggulkan. Sedangkan khamar adalah segala yang memabukkan. Dan juga, adalah akar dari segala kemaksiatan.

Jadi kalau sudah terlanjur, bagaimana saya memperbaikinya?
Jawabannya : taubatan nasuha, tobat yang sebenar-benar tobat. Bukan tomat.

Jumat, 27 Mei 2011

Kamu Dusta!

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata:

Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi’in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Abu Hurairah menjawab,
Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [Yang pertama] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
[Yang kedua] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
[Yang ketiga] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya.
Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”
(HR. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])
Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:
  1. Dosa riya’ -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat hukumannya (lihat Syarh Muslim [6/531]). Riya’ merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, “Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”. Para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat at-Tam-hid, hal. 397, al-Qaul al-Mufid [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi dengan orang seperti kita? Allahul musta’aan
  2. Dorongan agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5) (lihat Syarh Muslim [6/531])
  3. Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat Syarh Muslim [6/531-532])
  4. Sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.” (al-Fawa’id, hal. 143)
  5. Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 26). Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.” (lihat al-Qaul al-Mufid [2/53])
  6. Tercela dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan al-Albani) (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 22)
  7. Amalan yang tercampuri syirik -contohnya riya’- tidak diterima oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim) (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 23)
  8. Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.” (HR. Nasa’i dan dihasankan al-Albani) (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 21)
  9. Amalan yang besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)