بسم الله الرحمن الرحيم

Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat.”

(HR. Ahmad, Bukhari, Tarmidzi.)

Selasa, 24 Mei 2011

Dua Sarana Menjauhkan Dosa: Takut dan Cinta

Ada dua sarana untuk menjauhkan dosa. Sarana pertama adalah, banyak sekali dosa yang dapat dijauhkan karena takut kepada Allah ta’ala. Yakni dominasi rasa takut kepada murka Allah merupakan suatu hal yang dapat menjauhkan dan menghindarkan seseorang dari dosa. Sarana ini sama seperti rasa takut kita terhadap polisi, yang akan menghindarkan kita dari perbuatan melanggar hukum.

Sarana Kedua untuk menghindarkan dosa adalah, setelah mengenal dan menyadari rahmat dari Allah ta’ala yang begitu melimpah yang tak terhitung banyaknya, maka kecintaan terhadap-Nya akan meningkat. Dan kemudian akibat dari kecintaan itu dosa pun menjadi jauh. Jadi dosa dapat dijauhi melalui kedua sarana ini.

Memang ada sebagian orang yang menghendaki agar mereka tidak melakukan dosa, namun mereka terjerumus dalam kelalaian serta kealpaan sedemikian rupa sehingga dosa pun terjadi juga. Akan tetapi telah tertanam di dalam fitra manusia bahwa rasa takut yang mendalam akan menyelamatkannya. Seperti halnya jika domba diikatkan di depan singa, maka tak terpikir oleh sang domba untuk makan rumput. Atau seseorang yang tidak sanggup berdiri dengan angkuh di hadapan penguasa, melainkan dia akan tampil dengan penuh kerendahandiri, dengan hati-hati. Sikap hati-hati dan takut ini merupakan dampak dari wibawa sang penguasa dan kekuasaan.

Namun dampak itu juga dapat timbul dari kecintaan. Apabila seseorang pergi kepada orang yang telah berbuat baik padanya, dia akan mengenang kebaikan orang itu lalu dengan sendirinya hatinya akan menjadi luluh dan hati-hati. Dan dimatanya akan timbul suatu rasa malu. Kecintaan terhadap orang yang telah berbuat baik itu akan semakin meningkat. Misalnya, jika ada seseorang yang membayarkan utang orang lain, maka betapa orang yg berhutang itu akan mencintai orang tersebut, dan gejolak kecintaan itu mendorongnya untuk tidak ingin melawan serta menentang kehendak orang tersebut. Jadi sikap menurut dan taat ini timbul dari kecintaan pribadi.

Seperti itu pulalah, apabila manusia mengetahui kebaikan-kebaikan Allah taala yang Dia berlakukan terhadap dirinya, maka akibat kecintaan pribadinya itu manusia tersebut terhindar dari dosa, dan tidak ada dorongan lain yang dapat mengarahkannya kepada dosa. Permisalannya sama seperti seorang raja yang memerintahkan: “Jika engkau menyakiti bayi ini dan tidak menyusuinya, bahkan sampai dia mati pun, engkau tidak akan dihukum. Bahkan akan kami beri hadiah kepadamu.” Maka sang ibu itu sama sekali tidak akan mau melakukannya. Sebabnya adalah di dalam fitrat sang ibu terdapat suatu gejolak kecintaan terhadap bayi tersebut. Dan itu merupakan gejolak kecintaan pribadi.

Jadi apabila manusia mulai menjalin kecintaan semacam itu dengan Allah taala, maka kebaikan-kekbaikan yang timbul dari orang itu serta terhindarnya dia dari dosa-dosa, itu bukanlah karena dia mengejar sesuatu atau karena rasa takut, melainkan itu merupakan dorongan kecintaan pribadi tersebut.


TANDA KECINTAAN

Tanda kecintaan pribadi adalah, jika orang yang memiliki kecintaan pribadi ini sekalipun mengetahui bahwa akibat amal perbuatannya itu bukannya dia akan memperoleh surga, melainkan neraka. Atau dia tahu bahwa tidak akan ada hasil apa-apa, maka tetap saja tidak ada perubahan di dalam kecintaanya. Sebab kecintaan ini menghapuskan sisi-sisi takut dan optimis lalu menimbilkan suatu corak fitrat. Ciri khas dari kecintaan pribadi ini adalah ketika dia tumbuh kembang di dalam diri manusia, maka dia menimbulkan suatu api yang akan menghanguskan segenap kotoran yang di dalam, lalu membersihkannya. Inilah api yang membakari kotoran-kotoran yang tidak sanggup dihanguskan oleh rasa takut dan optimis. Jadi ini adalah derajat kesempurnaan bagi manusia, dan penting baginya untuk mencapai derajat tersebut.

sumber : http://agama-islam.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar